Thursday, January 27, 2011

Surat Cinta #14: Untuk Oma Sarah

weheartit



Hai, Oma Sarah.

Saya cucu dari satu-satunya anak perempuanmu, Ruth. Entah kenapa, pagi ini saya bangun dan memikirkan tentangmu. Terus terang Mama tidak pernah bercerita banyak tentangmu. Inilah yang membuat, selalu ada rasa penasaran di hati saya.

Saya selalu bertanya-tanya seperti apa wajahmu, dulu pertama kali bertemu Opa Marthen dimana? Lalu apa yang membuatmu jatuh cinta terhadap Opa Marthen. Kita memang tidak pernah bertemu, tapi bisa jadi kita punya ikatan yang kuat. Apakah itu? saya juga tidak tahu.

Pagi ini saya bertanya kepada Mama, “Ma, masih punya foto Oma Sarah? Mirip siapa sih? Meninggalnya tahun berapa?” lalu Mama jawab “Mama punya kok, masih lengkap. Mirip kamu. Meninggalnya di Semarang 13 Maret 1957.”

Ah, ternyata wajah kita mirip. Saya lalu membayangkan secara fisik, kira-kira apa ya yang kamu turunkan kepadaku. Mungkin senyummu. Mungkin matamu. Bentuk wajahmu. Atau lainnya? Keberaniannmu.


Lalu saya membayangkan, keberanianmulah yang membawamu jauh-jauh ke Semarang menemani suamimu yang seorang Polisi dan membesarkan tiga orang anak. Terima kasih untuk kekuatanmu yang sudah engkau turunkan kedalam darah saya.

Saya tidak mengenalmu Oma Sarah ketika masih hidup. Saya juga tak punya kenangan apa-apa tentangmu. Karena memang kita tidak pernah bertemu. Tapi ada darahmu di dalam darah saya. Jelaskah membaca surat saya ini Oma Sarah? kalau tidak, mungkin Oma Sarah butuh kacamata :D


Rambutmu juga keriting kah Oma Sarah? Jangan diluruskan. Karena saya juga tidak meluruskan rambut saya. Rambut ini mengingatkan kita pada akar kita. Pasti Oma Sarah juga setuju dengan ini. Ah, salam untuk Oom Jopie, Oom Fritz, dan Opa Marthen tentunya.

Sun sayang,




Cucu perempuan bungsu dari satu-satunya anak perempuanmu, Ruth.

Theoresia Laratwaty Rumthe

(nb: nama itu dari Papa, Oma. Anak menantumu, yang selalu membuat saya bangga.)

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...