Monday, January 17, 2011

Surat Cinta #4: Untuk Tuhan

Tak ada yang spesial. Senin ini saya bangun dengan perasaan biasa saja. Senin ini harus siaran. Senin ini harus latihan untuk persiapan konser. Sebelum tidur tadi malam pun saya hanya berdoa di dalam hati bahwa, semesta berikan saya damai sejahtera untuk hari ini.

Tuhan bagi saya, lebih dari sekedar menulis kata-kata cinta.

Kadang saya bahkan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas untukNya, kadang saya memaki, kadang saya kesal, kadang saya memarahi, kadang saya cerewet. Bahkan kadang saya menangis tersedu-sedu di pundakNya.

Ada yang pernah merasakan pundak Tuhan, persis seperti kamu tidur di pundak pacarmu. Kekar dan hangat. Akan membuatmu merasa nyaman. Setelah nyaman di pundakNya, Dia biasanya memeluk saya. Memeluk dengan erat, kalau sudah begitu tangisan saya biasanya bertambah deras.

Hari ini seperti biasa saya berangkat siaran. Duduk di kursi angkot paling depan. Kemudian mendapati setiap hal kecil yang saya temui sepanjang hari. Senyum pengamen. Kerut wajah supir angkot. Anak abege dengan gosip pacarnya. Ibu-ibu yang gelisah menelepon anaknya. Teman kantor yang ramah. Music Director dengan film Thailandnya. Microphone. Siaran.

Ada Tuhan di setiap detail yang saya temui hari ini. Karena hari ini ada sejahtera senantiasa yang saya rasa. Tiba-tiba perut saya bunyi. Ah, bahkan hari ini saya belum makan. Selesai siaran harus latihan nyanyi tiga jam untuk konser. Ada sejahtera ketika saya bernyanyi.

Pulang dan tetap belum makan.

Tak apa, yang penting saya sejahtera, ketika saya sejahtera. Saya tahu, Tuhan selalu ada untuk saya. Apapun kondisinya.

Saya tidak perlu menulis, kata-kata manis untukNya. Bahkan saya tidak perlu pakai kata-kata "Dear God."

weheartit


Dia mahatahu. Dia tetap sayang saya, apapun kondisinya.

1 comment:

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...