Monday, January 31, 2011

Surat Cinta #18: Untuk Rasa Pahit


Bohong.


Kalau kamu bilang kamu tidak pernah pahit. Bagi saya selama kamu masih hidup dan bersentuhan dengan orang lain, kamu akan retan merasa pahit. Saya rasa pahit itu semacam, keseimbangan yang perlu datang di dalam hidupmu, supaya kamu tidak pernah terlena dengan rasa manis.

Pukul 1:25 tepat saya sampai di rumah. Setelah seharian melakukan pekerjaan saya yang lain yaitu bernyanyi di wedding. Kebetulan kali ini lokasi weddingnya adalah Jakarta. Satu hal yang paling saya sukai adalah: menikmati perjalanan pulang -- Duduk di kendaraan lalu mulai melamun. Saya dan diam. Melihat ke luar, menikmati gelap, lalu mendengarkan banyak di sana.

Saya suka gelap. Karena di dalam gelap tidak ada yang melihatmu menangis.

Tapi kali ini saya menikmati perjalanan pulang saya sedikit berbeda. Saya mengobrol banyak hal dengan teman sebelah kursi saya: kita bicara banyak soal pahit. Terus terang, saya akrab dengan kata ini. Saya pun punya pahit. Biasanya suka saya simpan beberapa waktu -- ada yang selesai dan ada yang belum selesai.

Kalaupun kamu baca ini dan mengganggap saya pengecut, tidak apa. Paling tidak saya menulis untuk setiap rasa pahit saya yang belum selesai. Percakapan saya dengan teman itu begitu mengalir, kami banyak mengeluarkan keluhan kami, kami banyak mengerutkan alis kami, bahkan kami banyak mendenguskan nafas -- tanda lelah.

Mungkin percakapan selama perjalanan pulang tadi, tidak membuat semua pahit selesai. Bisa saja pahit itu masih menyisa, bahkan ketika saya menulis ini pun, belum kelar.

Tapi ada satu kesimpulan yang saya buat paling tidak untuk hati saya sendiri di malam ini: kalaupun kamu punya pahit dengan orang lain, padahal dulunya kalian adalah pasangan yang manis. Ingatlah hal-hal romantis yang pernah kamu lewati bersama orang itu.

Mengingat hal romantis, bukan gombal. Mengingat hal manis akan membantumu seimbang ketika rasa pahit itu melanda. Berbesar hati, untuk menerima rasa pahit. Lalu berbesar hati pula untuk mengingat hal-hal manis.


Rasa pahit akan membuat hidupmu lebih baik. Ini klise, tapi saya percaya. Dan bisa begini juga: ketika kamu hendak merasa pahit terhadap seseorang, coba ingatlah hal manis tentang orang itu. 




2 comments:

  1. waktu baca bagian dimana kamu duduk dan melamun dalam perjalanan, rasanya kok dalem banget. saya pun melakukannya :)

    Nice post, Theo :)

    ReplyDelete

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...