Friday, December 26, 2014

Walking After You













Windry Ramadhina melukiskan masa lalu dalam novel Walking After You seumpama hujan. Dan Windry benar, terkadang memang saya suka sekali memandang hujan dengan sedih. Karena bagi saya teradang memang masa lalu tersebut senantiasa tidak terhapus. Mereka selalu mengapung di permukaan matamu seperti genangan hujan. Terus menerus akan menggenang jika memang kamu tidak berani untuk menghapusnya, tetapi pertanyaannya apakah kita perlu menghapus masa lalu? Apakah memang kita perlu sengaja melupakan masa lalu?

Di dalam novel Walking After You, kalian akan berkenalan dengan An, perempuan yang tampak bahagia, tetapi sebenarnya tidak bahagia. Walaupun tertawanya renyah, sebenarnya ia menyimpan banyak sekali kesedihan. Di dalam segala sukacita yang keluar dari tawa renyahnya, sebenarnya An menyimpan rindu yang teramat dalam kepada seorang. Terkadang saya adalah An. Kamu adalah An. Hanya saja, kadang kita terlalu pintar untuk menyimpan perasaan perasaan kita. Kita hanya pintar menipu orang lain.

Masa lalu adalah hujan yang terkadang kita pandang dengan sedih. Dan An adalah hujan itu. Membaca novel Walking After You terasa seperti genangan hujan, terkadang ia akan membumbung tinggi di depan matamu, atau memercik sedikit kena pipimu, atau deras sekali di antara sudut-sudut jendela hatimu. Windry Ramadhina yang piawai dalam membuat bangunan cerita akan membuatmu semakin penasaran untuk menghabiskan novel ini dalam waktu yang sangat cepat.


Seperti masa lalu, jika memang kamu tidak berani untuk menghadapinya, ia akan tetap menjadi genangan seperti hujan dan akan membuatmu semakin penasaran. 

14 comments:

  1. Mungkin, saya juga seperti An. :)

    ReplyDelete
  2. Masa lalu adalah proses kehidupan. Kita yang sekarang pasti akan selalu terhubung dengan masa lalu. Masa lalu tidak perlu dan tidak bisa dihapus, ia bagian dari diri. Kita hanya perlu melepasnya, menerbangkannya ke langit. Mendoakannya agar suatu ketika bisa turun kembali dengan deraian air hujan yang membawa berkah, dan hembusan angin yang menyejukkan. Masa lalu pasti mempunyai banyak rasa dan banyak cerita. Jika kita cukup bijak dan beruntung kita bisa memetik 'buah segar' darinya sambil melihat pelangi di angkasa. Mari melepas masa lalu dengan riang :)

    ReplyDelete
  3. Dari masa lalu kita ada, dan bukankah kita bisa belajar dari masa lalu itu?

    Kak Windry sepertinya menuturkan Walking After You benar-benar mengesankan bagaimana 'melepaskan masa lalu'. Melalui tokoh An, ia bertutur bahwa sesulit apapun itu, masa lalu tetaplah harus dihadapi sama halnya saat kita meyakinkan diri bahwa kita harus berani menjalani masa depan.

    Hmm... menarik sepertinya untuk menuntaskan bacaan ini dalam sekali duduk. Terimakasih Kakak untuk penuturan kesannya ^^

    ReplyDelete
  4. Masa lalu seperti hantu.. Sekilas teringat maka akan mengingat kenangan itu secara utuh.. Kembali pada diri untuk menyikapinya. Dengsn tersenyum mengingat kisah manis yg menyegarkan sehingga kita tak pernah merasa sesal.

    ReplyDelete
  5. Kenapa kita harus selalu dibayangi masa lalu?
    Padahal kita selalu berkesempatan untuk memeluknya bersanding dengan masa depan yg cerah. Kenapa harus bersedih mendapati hujan merusak hari ini yang semula indah? Padahal kita bisa menari bersama dibawah rintiknya yang sejuk.
    Kenapa harus menatapi genangan hujan yang tertinggal setelah hujan reda? Padahal kita bisa melempar senyum padanya dan bersorak dengan riang " Aku mampu melepaskan kesedihanku ". Dan pelangi yang indah kini menantiku selepas hujan reda.


    athaya.irfan97@gmail.com

    ReplyDelete
  6. Hujan memang seperti masa lalu. Mencintai hujan tidak berarti kita harus menjadi bagian darinya. Melihatnya dari jendela saja sudah cukup. :)

    ReplyDelete
  7. Tentang masa lalu? Masa lalu bukan badai yang terus saja mengamuk. Bukan juga angin yang menusuk. Maknanya jauh lebih dalam daripada hanya sekedar mengucapkannya. Ia menyimpan banyak kenangan bukan untuk selalu terluka, bukan untuk membuat kita selalu dalam lara. Ia ada untuk membuat kita mengerti arti hidup yang sebenarnya. Bahwa selalu ada kebimbangan dalam setiap pemikiran. Dan selalu ada hasil atas semua usaha. Ia diciptakan agar kita mampu belajar dari kesalahan sebelumnya. Ia hadir bukan untuk rapuh, namun untuk bangkit dan iklas menerima takdir Tuhan yang terbaik untuk diri kita.

    ReplyDelete
  8. Hujan selalu membawa kenangan bersamanya.. :)

    Salam kenal, Kak.

    ReplyDelete
  9. Masa lalu itu selalu ada ditiap langkah kita. Memang tak mudah melepaskan masa lalu terlebih untuk menerima masa lalu itu sendiri. Namun, masa lalu ada untuk mendewasakan kita. Ada untuk menjadi pedoman hidup . terkadang, orang-orang terbelenggu dalam masa lalunya sendiri, padahal jika ia mau melebarkan sayap dan membuka matanya , masa lalu itu menginginkannya untuk terus bergerak maju.

    ReplyDelete
  10. Masa lalu? Pasti tidak lepas dari kenangan, manis ataupun pahit. Masa lalu terkadang selalu menjadi penghalang untuk kita melangkah. Karena, iya, melepas masa lalu tidak semudah membalikkan telapak tangaan, tetapi akan lebih mudah jika kita berusaha dan berani menghadapinya. Hujan memang lebih banyak diibaratkan kesedihan, tetapi ingatkah kalau setelah hujan ada pelangi?:)

    ReplyDelete
  11. Hujan itu hanya sebuah siklus. Sama seperti kehidupan. Butuh proses di dalamnya sebelum menjadi sesuatu. :')

    ReplyDelete
  12. EXCITING BANGET sama novel terbarunya penulis Metropolis ini oh my gosshhh :v

    Liat review ini jadi inget karya kak windry sebelumnya (London) yang dihiasi hujan hujan dan malaikat :D
    btw ini review penuh diksi yang bagus banget. Keren. jadi makin mau punya novel ini ahhaha :))

    ReplyDelete
  13. Masa lalu ialah diary hidup yang tergurat di hati,kenangan indah maupun menyedihkan.Masa lalu adalah proses metamorfosis untuk menjadi diri yang lebih baik dan berharga.Hujan bagaikan masa lalu yang sedih,tapi sehabis hujan timbullah pelangi yang mendatangkan keceriaan =)

    ReplyDelete
  14. Masa lalu biarlah masa lalu
    Jangan kau ungkit jangan ingatkan aku ...

    Itulah lagu dangdut yang sering aku denger baru-baru ini. Agaknya, pas sama kisah novel Walking After You, tentang bagaimana cara memperlakukan masa lalu, melupakan apakah menerima?

    Aku suka memperlakukan kenangan masa lalu seperti film-film yang sekarang sedang menumpuk di harddisk laptopku, saking banyaknya sampai hampir full dan membikin lemot atau loading lama. Mungkin jika diibaratkan kepala adalah laptop, jika terlalu banyak menyimpan masa lalu maka akan seperti itu juga, susah diajak berpikir dan bawaannya stres. Aku sebenarnya ingin menghapus film-film itu dari laptop, tapi aku selalu merasa sayang karena belum semuanya film aku tonton. Mungkin aku harus rela menontonnya dulu, memastikan mana film yang benar-benar bagus dan jelek, kemudian menghapus yang jelek dan menyisakan film yang bagus. Mungkin juga seperti itu harusnya kita memperlakukan kenangan masa lalu. Untuk benar-benar melupakannya, kita harus berani untuk mengingatnya kembali, telaah lagi kisah masa lalu, dan ambil amanatnya. Kenangan yang ternyata mempunyai pesan yang penting bagi kita, maka simpanlah. Sedangkan kenangan yang hanya berbekas buruk, bisa kita lupakan secara perlahan.

    Agaknya seperti itulah yang perlu kita lakukan. Mengibaratkan kenangan masa lalu adalah film-film yang menumpuk di harddiskmu, untuk sekadar menghapusnya, kamu harus berani untuk menontonnya terlebih dahulu.

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...