Wednesday, September 10, 2014

Sedikit Cerita Tentang Minggu Minggu Ini







Sudah hampir dua bulan ini saya tidak lagi siaran. Itu artinya saya sudah tidak terlibat lagi dengan “sistem perkantoran” dan sekarang benar-benar menjadi freelance. Selama tidak siaran, saya mengajar. Fase ini saya sebut dengan fase “memperlambat hidup” karena saya sedang ingin lamban dan tidak ingin tergesa-gesa di dalam hidup.

Ada masa-masa di dalam hidup, dimana kita memang tidak perlu terburu-buru. Dan fase itulah yang sedang saya rasakan saat ini. Pernah pada suatu pagi saya bangun, lalu saya lupa bahwa hari ini adalah hari apa, dan saya harus melakukan apa. Lupakan dulu sejenak. Karena yang terjadi adalah saya bangun malas-malasan, kadang-kadang tidak mandi, lalu pergi ke tempat favorit  saya untuk ngopi, kemudian menghabiskan waktu saya seharian di sana untuk membaca buku.

Dan itu sangat menyenangkan. Karena ada perasaan “penuh” di dalam dirimu. Akhirnya membuat saya berpikir bahwa ada satu momen di dalam hidup, dimana kita memang tidak perlu “melakukan apa-apa” hanya menikmati hidup dengan sebagaimana adanya saja. Mengikuti aliran hidup kita. Oh, bukan berarti saya tidak bekerja sama sekali juga. Saya masih menulis. Saya mengajar juga. Yang hendak saya sampaikan di sini adalah bagaimana ada rasa berani untuk “lebih menikmati hidup” sebagaimana mestinya. Tidak ada beban. Tidak ada tanggung jawab kepada siapapun, melainkan hanya kepada diri sendiri.

Ada beberapa hal yang kemudian saya catat. Dengan pada akhirnya keluar dari pekerjaan sebaga penyiar radio, bukannya meninggalkan mimpi atau passion. Tapi justru break sejenak, sebelum akhirnya melakukan sesuatu yang lebih besar. Saya merasa seharusnya passion tertinggi di dalam hidup manusia, yaitu berbagi.

Kenapa berbagi? Ada hal penting yang kemudian saya sadari bahwa, setinggi apapun kita berlari untuk mengejar “mimpi” kita, tetapi jika kita tidak berbagi, sama saja dengan hidup kita tidak berisi apa-apa. Pada akhirnya “mengajar” menjadi pilihan saya pada saat ini. Karena dengan mengajar saya bisa berbagi sepenuhnya.

Saya akan ceritakan sedikit kepadamu tentang pengalaman mengajar public speaking saya kepada teman-teman difabel. Dalam hal ini beberapa diantara mereka menderita cerebral palsy, tuna rungu, tuna netra. Pengalaman yang menarik ketika mengajar mereka. Saya tidak hanya berbagi ilmu dengan mereka melainkan saya juga belajar banyak dari mereka. Ketika mengajar teman yang tunan rungu, tantangannya adalah saya harus bisa membaca gerak bibirnya, karena saya tidak belajar bahasa isyarat sebelumnya. Sedangkan jika mengajar teman-teman yang cerebral palsy, saya harus selalu mendorong mereka untuk selalu ada di dalam posisi stand by. Karena posisi badan mereka yang tidak bisa tegak lurus.

Hal lainnya yang saya temukan ketika mengajar teman-teman yang difabel ini adalah mereka nyaman dengan diri mereka. Mereka tidak melihat kekurangan fisik mereka sebagai kekurangan. Dibandingkan dengan kita yang katanya “normal” kita malah seringkali terganggu dengan keberadaan fisik kita.

Tetapi lebih daripada apapun, berbagi adalah hal yang menyenangkan. Saya menulis di akun instagram saya pada suatu hari:

Beberapa minggu terakhir ini saya mendefinisikan banyak. Termasuk kata "bahagia" sejujurnya saya bukan orang yang sukar untuk bahagia secara sederhana, seperti melihat sore hari, langit merah, kadang-kadang sudah bikin hati saya berbunga-bunga luar biasa. Lalu saya sampai pada sebuah pertanyaan apa yang paling bikin kamu bahagia? coba hening sejenak, lalu berpikirlah. Setelah lama, akhirnya saya menemukan definisi tertinggi dari bahagia adalah ketika saya berbagi. Titik. Berbagi bukan hanya materi (karena mungkin saya tidak akan mampu) tetapi berbagi pengetahuan, kemampuan, energi, semangat, kesegaran, daya juang, daya tahan, kasih sayang, senyuman, apapun yang sudah diberikan kepada saya cuma-cuma, saatnya saya bagikan itu kepada orang lain.

Sudahkah kamu berbagi?

1 comment:

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...