Wednesday, August 20, 2014

Membaca Dongeng Ayu Utami






Beberapa buku yang tidak boleh dilewatkan adalah seri Bilangan Fu, Manjali dan Cakrabirawa, Lalita, dan Maya. Dongeng dan Ayu Utami seperti tidak terpisahkan. Kesukaan saya akan mitos seperti mendapatkan “ruang.” Ayu yang pandai bercerita selalu menimbulkan kegemaran saya berimajinasi tentang Jawa dan hal-hal eksotis lain di sekitarnya.

Beberapa hal yang saya catat dari tulisan-tulisan Ayu adalah pertama ia selalu menjadikan apa yang dianggap orang tidak indah, menjadi sesuatu yang indah. Apa yang tidak dipandang oleh orang lain, menjadi dipandang. Apa yang tidak berharga, menjadi berharga. Ia mendadak seperti Yesus, selalu memilih apa yang hina bagi dunia dan menjadikannya mulia.

Hal ini menjadikan karya Ayu layak dibaca, karena ia tidak pernah ikut ramai. Apa yang cantik baginya, bisa jadi tidak bagi kebanyakan orang. Apa yang indah baginya bisa jadi tidak indah bagi kebanyakan orang. Tetapi ia tidak peduli. Justru di situlah yang membuat ia menonjol. Dengan karakter-karakter yang dibangun berdasarkan rasa keterbelakangan. Jadi setiap orang yang merasa “berbeda” mendapat tempat.

Kedua. Kekuatannya membangun sebuah cerita. Saya selalu mengibaratkan penggalan kata yang ada di dalam halaman-halaman novelnya terbuat dari putih telur, yang konon itulah yang melengketkan batu-batu yang menjadi sebuah candi. Mereka begitu kuat. Sehingga bertahan berabad-abad. Kekuatannya justru terlihat pada dasar bangunannya. Sebelum melihat kepada bumbungan dari bangunan tersebut.

Bilangan Fu, Manjali dan Cakrabirawa, Lalita, Maya, hanya sebagaian kecil dari rasa kokoh itu. Sampai akhirnya kita akan dikejutkan lagi dengan seri-seri lainnya. Selamat menunggu!


3 comments:

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...