Sunday, February 13, 2011

Surat Cinta #28: Untuk Kupu-kupu di Perut

weheartit


Kepada kupu-kupu di dalam perut saya. Saya kangen merasakan kalian lagi. Saya merasakannya bertahun-tahun yang lalu. Kupu-kupu yang begitu banyak, sayap-sayapnya beregesekan pelan di antara usus dan dinding perut saya. 

Mereka terbang pendek, terkadang berjinjit halus di sana. Lalu mulai menari-nari pelan, padahal tidak ada lagu. Mereka hanya bergirang di dalam perut saya, dan membuat saya juga ikut bahagia. Pipi memerah. Senyum-senyum kecil sepanjang hari: jatuh cinta.

Sekarang saya begitu kangen.

Lalu suatu hari saya pulang dan bilang kepada dewi hujan, bahwa saya ingin merasakannya -- kupu-kupu itu lagi. Entah kenapa, dewi hujan tampak mengerti perasaan saya. Ia mengirimkanmu. Kita bertemu. 

Awalnya sama sekali saya tidak merasakan apa-apa. Di dalam hati saya berbisik pelan ah, tidak ada kupu-kupu lagi.. saya mencoba mendengarkan ke dalam perut saya, siapa tahu saya bisa mendengarkan suara-suara kecil mereka, atau kaki-kaki kecil itu. 

Namun, tidak ada. 

Saya sedih, mungkinkah sudah selesai. Saya pulang ke rumah dengan perasaan yang -- sedikit menyesal, karena ketika bersamamu: kupu-kupu itu tidak datang lagi. Tapi apa mau dikata, mungkin ini waktunya untuk kupu-kupu ini pulang, membangun rumah mereka di dalam perut yang lain. 

Saya tidur, memikirkanmu. Keesokan harinya ketika saya bangun pagi, ada yang bergerak-gerak. Ada yang bergesek-gesek di perut saya. Ada yang mulai melompat perlahan.

Ah, mereka masih di sana ternyata.

Iseng, saya berbisik pelan kepada mereka kemana kalian kemarin?

Kami tidur sayang, kami tidak ingin mengganggumu dengannya. 

1 comment:

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...