Thursday, February 3, 2011

Surat Cinta #21: Untuk BEN

Hai Ben. 

Apa kabar kamu pas baca surat ini. Kulitmu tambah gelap. Matamu tambah cekung. Masih sering pergi duduk di bangku taman, menunggu sore atau menunggu aku. 

Ah Ben. Hari-hari ini aku begitu sibuk. Aku nyaris melewatkan sore hampir setiap harinya. Tak ada waktu untuk menyapa. Tak ada waktu untuk menyentuh pipi sore. Ada rasa kangen juga. Tapi begitulah, aku terlalu sibuk. 

Aku ingin peluk kamu Ben. Supaya lelahku hilang. Aku ingin cerita lagi lama-lama di pundakmu di bangku taman itu lagi. Ketika aku menulis ini aku berpikir bahwa, kadang aku hanya butuh pelukan. Bukan ciuman. Hanya ingin merasakan degup jantungmu. Hanya ingin merasakan hangatmu. Hanya ingin menangis sekencangnya-kencangnya. Hanya ingin mengeluarkan segala penat di hati ini. 

Lalu bibirmu, cium sedikit saja. Tapi peluk aku yang lama. 

Sabar sedikit lagi ya Ben. Segera, setelah aku menyelesaikan semua urusan-urusanku. Kita harus bertemu. Kita harus duduk lagi di bangku taman itu. Ya, aku memang ingin merayakan sore bersamamu. 

Hari ini aku melihatmu Ben. Kamu sendirian. Kamu kelihatan kurus. Aku tak berani menyapamu. Aku tidak bisa. 


Maafkan aku ya Ben.




weheartit

Walau begitu, kamu harus tahu ini -- aku kangen merayakan tatapanmu. Walau kini kamu tak bisa membalas tatapanku lagi.

Aku di rerumputan, di bangku taman itu Ben. Duduk persis di sampingmu. Melihat begitu banyak kesedihan di matamu.


Aku mulai menangis pelan. Bahuku mulai berguncang-guncang. Kamu tidak juga menyadarinya. Bau rumput menyengat di hidungku. Suara adzan di kejauhan. Kamu pulang. Langkahmu lunglai berjalan pelan.


Aku masih setia duduk di bangku taman itu. 


Menunggu. 







Elana. 





1 comment:

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...