Monday, February 7, 2011

Surat Cinta #24: Untuk Impian

Sudah lama sekali saya tidak menulis di diary. Saat ini saya hanya concern menulis di agenda kecil saya saja. Itupun tidak sedetail dulu. Beberapa tahun ke belakang ini, saya memang sudah meninggalkan diary. 

Selain ada fungsi blog yang kemudian dimaksimalkan. Lalu paling tidak dua kali sehari saya memosting sesuatu di blog. Bukannya apa-apa, bagi saya terkadang ada keterbatasan di dalam bercerita tentang isi kepala kita kepada orang lain.

Dengan menuliskannya, saya merasa lebih lengkap. Dan lebih pas. Apakah kamu juga merasakan hal yang sama?

Di malam menjelang pagi ini, saya kembali lagi membuka beberapa diary lama saya. Salah satunya yang sempat saya pindahkan ke kos yang baru. Sedangkan yang lain, tampak tertinggal di kos yang lama, belum sempat saya ambil.

Salah satunya adalah diary pink yang saya tulis sekitar tahun 2005. Tulisan di dalamnya warna-warni. Saya ingat, dulu saya bahkan punya jadwal menulis diary setiap hari yaitu: jam empat sore. Itulah awal saya jatuh cinta kepada sore. Dan akhirnya memutuskan punya nama: perempuansore.

Salah satu halamannya berisi: apa yang menjadi impian saya. Beberapa impian besar yang ingin sekali saya capai di dalam hidup. Tentu saya tidak akan membukanya semua kepadamu. Saya malu. Tapi ada satu impian yang ketika saya membacanya kembali membuat saya, senyum-senyum kecil. Lebih kepada deg-degan.

Itu adalah: menikah.

Saya meletakkannya di list paling terakhir. Lengkap pula dengan gambarnya. Lalu ada tulisan kecil di gambarnya: And they never look back with regrets. Ever.

Ketika saya menulis impian itu, saya adalah anak gadis berumur dua puluh dua tahun. Entah apa yang ada di pikiran saya waktu itu. Tapi saya menuliskan impian saya. Beberapa belum tercapai, termasuk menikah. 

Hari ini saya menulis surat cinta kepada impian itu kembali. Kelak, saya akan menikah dengan seseorang. Yang mungkin adalah salah satu dari pembaca blog saya ini. Lalu ketika kamu membaca ini, pipimu sudah merah duluan. Ya, itu kamu. 

Saya bahkan telah mengetahui, bahwa kita akan bersama sejak usia saya masih dua puluh dua tahun. 

Kalaupun hari itu tiba, saya akan berbisik di kuping kamu:


100layercake.com

"We will never look back with regrets. Ever."


2 comments:

  1. Wow. Diary pertama saya juga berwarna pink. Tapi jadwal menulis saya sekitar jam sepuluh malam. Setiap hari harus satu halaman meski banyak yang ingin diceritakan :)

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...