Wednesday, February 9, 2011

Surat Cinta #27: Untuk Bayou

Di hari ke-27 ini saya akan menulis untuk seseorang. Seorang sahabat. Kami saling menyayangi dengan cara kami. Dan kami punya hubungan istimewa, tanpa lust. Kenapa saya menulis ini, karena saya tidak jatuh cinta dengannya begitupun dia tidak jatuh cinta dengan saya. Tapi kami punya chemistry yang sama. Kami saling menyayangi, itu saja. 

Saya akan sedikit menggambarkan tentangnya di surat ini: Bayou Kansil. Itu laki-laki paling passionate yang pernah gue kenal seumur hidup gue. Ngobrol di dekatnya, elo bakal ngerasain letupan-letupan yang selalu bikin bergetar. Dia selalu bercerita dengan mata berbinar-binar. Semacam konseptor yang memperhatikan detail. Elo akan nilai dia songong, kalau mulai ngobrol soal ide. Laki-laki yang kelihatannya garang, tapi hatinya gampang pecah. Dia adalah perpaduan antara yang keras dan lembut itu. Begitu menyayangi adik semata wayangnya. Super nyebelin kadang-kadang. Selalu tahu apa yang dia lakukan. Punya rasa sayang berlebihan. Lalu punya cita-cita yang besar. 

Saya selalu memandang dia sebagai orang besar suatu hari nanti. Saya selalu memperlakukan dia sebagai orang besar. Karena begitulah dia. Ketika mengobrol, berjalan, dibonceng, dipeluk,   duduk bersebelahan dengannya -- saya selalu tahu suatu hari nanti dia akan besar. 

Di kepala saya, saya selalu membayangkan ini: berkunjung ke studionya yang mewah lalu memesan undangan ulangtahun anak saya yang ke 5, mengobrol dengan istrinya, bermain dengan anak-anaknya kelak. Atau ini, mengajak anak-anaknya makan es krim suatu hari nanti lalu bercerita tentang Papa Bayou

Kalau ada yang tanya seperti apa Bayou Kansil: saya akan mengatakan bahwa kelak dia bakal jadi orang. Ya, saya hanya tahu itu dari hati saya.

Subuh ini, saya pulang dan tidak bisa masuk ke kos. Karena entah kenapa, tiba-tiba gembok kos saya diganti. Padahal sehari sebelumnya saya masih bisa masuk. Satu orang yang ada di kepala saya, untuk dihubungi: Bayou Kansil. Tadinya saya mau transit dulu di kosnya beberapa jam, tapi karena kondisi yang tidak memungkinkan. Akhirnya saya memutuskan untuk lompat pagar kos, yang langsung disetujui oleh Bayou. 

"Sini, gue pegangin tas-nya Yo."
"Oke. Elo pegang ya. Gue naik, gue jago kok manjat." balas saya sambil sumringah, Bayou hanya menatap saya dengan senyum. Lalu ada kilatan di mata ngantuknya, dia percaya sama saya.  

Tepat sekali. Saya bisa melakukannya. Saya berhasil melompati pagar kos dengan mulus dan tanpa kurang suatu apapun :D ada sedikit pelajaran yang bisa saya petik dari ini: kadang kita bisa melompati hidup sendiri. Tetapi kadang kita butuh sahabat untuk menemani kita melakukannya.

Subuh tadi, ada Bayou menemani saya melakukannya. 

Siapapun yang menikahi Bayou Kansil kelak, harusnya juga punya keyakinan seperti saya: bahwa ia menikahi orang besar. Laki-laki yang tepat. Dan tak perlu cemburu sama saya, karena sampai kapanpun, Bayou Kansil akan selalu istimewa di hati saya. 

Kami bersahabat, dan saling menyayangi. 

Love you, B!

2 comments:

  1. "ada sedikit pelajaran yang bisa saya petik dari ini: kadang kita bisa melompati hidup sendiri. Tetapi kadang kita butuh sahabat untuk menemani kita melakukannya."

    bagian itu bikin gue somehow merinding. Nice quote. Pager kosan lo itu sungguh inspiratif adanya, ya, The. Banyak cerita yg berangkat dari situ =)

    ReplyDelete
  2. saya suka surat cintanya yang ini, kak.
    saya juga punya sahabat seperti Bayou mu.
    "Kami bersahabat, dan saling menyayangi." :D

    ReplyDelete

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...