Tuesday, February 22, 2011

Petualangan

weheartit
Kadang bisa sangat jujur. Kadang bisa sangat gengsi untuk mengungkapkan "hal-hal tertentu." Kamu pasti mengerti. Hidup ini melakukan petualangan, saya dan kamu memang harus siap untuk dikagetkan.

Bertemu dengan kejujuran itu mungkin sulit. Banyak hal yang membuat kamu kaget, diam, lalu bingung: setelah ini, mau melakukan apa. Kamu begitu tuli untuk hanya sekedar mendengar suara hatimu sendiri. Seperti yang sudah-sudah, satu kesalahan besar saya adalah saya terlanjur jatuh cinta.

Ini mungkin prinsip yang begitu mendasar. Membuat saya menjadi buta untuk melihat hal lain. Membuat saya membatasi diri saya sendiri. Membuat saya – begitu marah, karena saya tidak ingin mengkhianati hati saya sendiri. Sedangkan kamu, tidak kemana-mana. Kamu tidak membawa saya kepada petualangan yang saya inginkan.

Saya ingin bertualang, dan saya tak ingin sendirian. Kamu tidak mengerti itu. Kamu membiarkan saya sendirian, bertualang meninggalkan jejak saya sendiri. Lalu, kamu entah berakhir dimana. Saya sendiri takut sekali untuk menebak. Rasa penasaran saya kemudian habis. Saya tidak mau lagi bertanya-tanya.

Hujan pun turun di luar. Saat ini saya duduk dengan kopi dingin dan beberapa batang rokok. Kita duduk, tak saling memandang. Sesekali, kamu menghisap rokokmu dalam-dalam. Menatap—entah. Di kejauhan sana entah apa yang kamu cari. Padahal saya ada di sini. Saya persis duduk di sampingmu dan siap mencintaimu utuh.

Sudahlah! Jangan pikir kali ini saya gombal. Saya memang senang membuat puisi, tapi untukmu, rasa ini berbeda. Saya siap melakukan segala sesuatunya untukmu. Termasuk mengajakmu ke luar, bertualang diantara hujan.

Kamu masih saja diam. Tidak bergeming. Saya berdiri dan berjalan ke arah jendela. Teras luar tampak basah. Hujan deras, menghajar dahan. Saya mengeluarkan tangan dari jendela, untuk merasakan dinginnya hujan di telapak saya. Tiba-tiba saya bergetar, merasakan dinginnya.

Sekilas, saya menoleh, melihat ke arah dirimu. Itu masih bibir yang sama, yang selalu saya inginkan. Lalu, urat-urat di tanganmu masih menjadi pemandangan yang selalu saya suka. Hanya saja kali ini, sorot matamu begitu dingin.

Sedingin hujan di telapak tangan saya--pertanda saya harus siap dengan petualangan baru. 


**** 

aku bungkus
hujan liar 
dengan pita oranye
sayang!
beserta kartu ucapan terima kasih
warna ungu, layu.
pecah di dahan.

1 comment:

  1. Theo, yang pecah jumlahnya jadi lebih banyak berkali-kali lipet.

    Udah gitu tumbuh jadi sesuatu yang baru di suatu tempat =)

    ReplyDelete

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...