Sunday, February 20, 2011

Kehilangan

weheartit




Detak itu ada dimana-dimana. Kami bertemu setiap hari, tapi saya seperti kehilangan getarnya. Ia kini begitu pelan dan sunyi. Dengungan dan pantulannya di dinding-dinding entah kemana. Saya kehilangan mood untuk menulis. Kopi saya hampir habis, lalu saya tidak dapat meneruskan kalimat-kalimat pendek itu.

Di kepala ini, banyak sekali yang berloncatan, ingin terjun bebas ke page putih, netbook saya. Ada wangi dirimu yang ingin saya tuangkan di sana. Ada senyum manismu, yang ingin sekali saya rangkai menjadi paragraf panjang. Tapi entahlah, saya keburu tidak bernafsu.

Saya sedang bosan denganmu. Saya sedang belajar untuk kehilanganmu. Banyak hal yang tidak sempat keluar dari bibir ini, banyak penjelasan yang urung saya sampaikan. Saya hanya terlanjur bosan. Itu saja, titik! saya pikir kita bisa memulai sebuah kehidupan baru.

Bodoh, bodoh, dan bodoh! Saya adalah perempuan bodoh yang terlanjur jatuh cinta dengan orang tolol sepertimu. Lalu, kita berdua terdampar di dalam detak yang kini bergerak sangat lambat. Saya ingin sekali merobek angka-angka di jam kertas di ujung meja kerja itu. Saya ingin sekali membunuh detak-detak lamban, yang merayap, mengejek, lalu menertawai saya.

Saya ingin sekali menyusup ke dalam jantungmu, demi mengecek saja: “Apa kamu sendiri sudah siap dengan arti kehilangan?”

Dengarlah. Kali ini saya betul-betul akan memberi jarak denganmu. Saya akan mebiasakan kamu untuk mengenal apa itu kehilangan. Ada waktu untuk berlari, lalu ada waktu untuk berhenti, minum air sejenak, tarik nafas pelan-pelan. Ada waktu untuk mengejar, tapi ada waktu untuk berdiam diri dan dikejar. Ada waktu untuk mencintai penuh-penuh. Lalu ada waktu untuk menarik cintamu, sedikit demi sedikit. Ada waktu untuk menemukan. Lalu ada waktu untuk kehilangan. Selamat menikmati kehilangan, hei kamu!

Mungkin hari kehilangan itu akan datang. Lalu, kamu adalah orang pertama yang paling menyesalinya.




****


Akhirnya, saya menyelesaikan tulisan ini. Walaupun ketika menuliskannya puntung rokok berhamburan dimana-mana. Cangkir kopi beberapa kali saya ganti. Kamu pasti tidak suka. Ah, saya tidak peduli juga. 

4 comments:

  1. Ada waktu untuk mengejar dan ada waktu untuk dikejar! is a must.. hehehe...
    suka bgt paragraf terakhir na..

    ReplyDelete
  2. : Sumpah mbak! Kena banget! Suka sekali!
    *menitikanairmata* *dipojokankantor* :D

    ReplyDelete
  3. Saat jatuh cinta memang seharusnya juga siap untuk patah hati.

    Teori yg menyebalkan!

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...