Tuesday, November 29, 2011

Selamat Hari Guru


The best teachers teach from the heart, not from the book.  ~Author Unknown

Hari guru baru lewat beberapa hari yang lalu. Tapi saya ingin menulis tentang dua orang guru yang memberikan inspirasi banyak kepada saya ketika saya masih bersekolah di SMA Negeri I Ambon. Sekolah idaman, begitulah sebutannya ketika jaman itu. Saya bukan termasuk murid yang pintar-pintar amat di sekolah. Malah dalam beberapa hal, terbilang murid yang bandel. Pernah dikeluarkan ketika mata pelajaran Matematika, karena sengaja datang terlambat. Tukang ribut ketika ada beberapa pelajaran berlangsung. Seperti anak-anak keren lainnya, saya juga pernah bolos dengan alasan segala rupa, menstruasi lah, beli obat ke depan lah—dan tidak kembali lagi. Selain itu kebandelan saya yang lain adalah sering sekali membuat teman saya menangis—yang ini urusannya karena iseng saja.

Tapi kebandelan itu semacam berhenti ketika saya menemukan dua guru ini. Mereka tidak hanya guru, tetapi bagi saya mereka adalah pendidik. My muse. Oli Mustamu, ia guru Bahasa Jerman ketika saya sekolah dulu. Sekaligus wali kelas ketika saya ada di kelas 3 SMA. Mendampingi kami dengan setia ketika Ambon sedang rusuh-rusuhnya pada masa itu (awal 1999). Ia sosok yang lembut dan elegan. Cara berpakaiannya sederhana sekali dengan kacamata dan lipstik tipis-tipis warna bibir. Rambutnya selalu digerai kebelakang. Kecantikannya justru ada di dalam kesederhanaannya. Suaranya begitu lembut dan merdu. Ketika menjadi wali kelas utuk kami murid kelas 3 pada saat itu, ia selalu sabar mendampingi kami. Pada saat pelajaran tambahan di kelas, ia berdoa di depan kelas, dan selalu mendukung setiap kami dengan kata-katanya yang mendorong. Saya yang bandel ini, selalu melihat Ibu Oli bukan sebagai guru. Ia seperti ibu. Memperlakukan setiap kami seperti anak-anaknya. Memperhatikan setiap detail kebutuhan kami di kelas. Di dalam hati, saya ingin sekali sepertinya.

Yang kedua adalah Risnawati Tarabubun. Kami biasa memanggilnya dengan sebutan Ibu Risna. Sosok yang fashionable. Ia punya selera berpakaian yang bagus. Dengan rok mini sedikit di bawah lutut, blues longgar, sepatu hak tinggi, lipstik merah. Rambut rapih, kadang diikat dan kadang digerai. Dengan bentuk muka runcing dan bibir tipis. Ia sosok yang ayu. Mengajar Bahasa Indonesia. Dan bagi saya ia adalah sosok public speaker yang baik. Oh ya, selain itu Ibu Risna juga adalah seorang presenter TV lokal Ambon waktu itu. Jadi mungkin pembawaannya sebagai presenter membuatnya menjadi sosok yang sangat bersahaja dan ramah ketika sedang ada di luar. Di dalam hati saya mengagumi, Ibu Risna. Dan kelak saya ingin sekali sepertinya.

Kenangan tentang dua guru tadi begitu kuat di kepala saya hingga kini. Walaupun saya tidak pernah punya cita-cita sebagai guru suatu hari nanti. Namun saya punya satu keinginan terpendam yaitu, suatu ketika saya ingin sekali memiliki kelas public speaking saya sendiri. Public speaking adalah dunia yang saya sedang geluti sekarang. Saya telah memulai kelas public speaking angkatan pertama saya di Tobucil. Dan akan melanjutkan angkatan kedua saya di tahun depan.

Dan ternyata saya senang sekali mengajar. Hal ini saya rasakan ketika saya mengajar dan berbagi sesuatu ada kepuasan dan kebahagiaan tertentu yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata. Saya belum percaya bahwa saya adalah seorang pengajar yang baik, sampai ketika Suwan, seorang murid saya yang tidak lagi muda, berkata begini di akhir pertemuan kami: Anda sangat berbakat menjadi pengajar. Saya bisa rasa itu.

Saya berkaca-kaca ketika ia mengucapkan ini.

Saya belum sampai di sana, Suwan. Tapi kelak saya ingin. Ketika menulis ini, ada rasa bangga yang begitu kuat di dalam benak saya untuk memperkenalkan kedua guru diatas tidak hanya sebagai guru. Tapi mereka adalah pendidik, ibu, dan inspirasi. Semoga kelak saya juga bisa seperti mereka.

Selamat hari guru :)

1 comment:

  1. wowww, pengajar juga kak? *aku manggilnya apa ya, kak theo, kah..?

    aku boleh tau, siaran di radio apa?

    ReplyDelete

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...