Thursday, November 17, 2011

Tuan Kecil Dan Nona Kecil






aku patung mereka patung
cangkir teh hangat namun kaku dan dingin
meja meja kayu mengkilap
wajahmu dibasahi air mata yang dilukis


***

Tuan Kecil yang bermimpi akan bertemu Nona Kecil. Sampai suatu hari di taman bermain yang telah dijanjikan si Tuan Kecil datang dengan setelan jas biru tua. Bunga tulip kuning di tangannya.

Di kejauhan tampak si Nona Kecil bangun terlambat. Karena semalam ia tak bisa tidur. Dengan gesit ia mandi lalu terburu-buru membuka lemari. Hendak pakai baju apa ya? pikirnya. Pilihannya jatuh ke dress kuning muda. Motif bunga merah kecil. Dengan sepatu boot, yang akhirnya menampung jari-jari mungilnya.

Si Nona Kecil pun berlari. Ia tak ingin Tuan Kecil terlalu lama menunggu.

Taman bermain itu kelihatan ramai. Banyak pengunjung mulai datang. Ada pasangan orang tua dan anak-anaknya. Ada para remaja. Ada juga opa oma yang duduk-duduk di bangku sekitar taman.

Nona Kecil kini telah sampai di tempat yang dijanjikan. Dengan kuncir di kepalanya terjuntai. Ia melihat ke kanan dan ke kiri mencari Tuan Kecil. Apa aku terlambat? pikirnya. Kalau Tuan Kecil sudah sampai duluan, ia pasti menunggu. Begitu kata hatinya lagi. Tidak lama kemudian ia duduk di atas rumput. Rumput yang wangi sehabis terkena hujan. Tak ada yang bisa dilakukan selain duduk dan menunggu. Pikirnya lagi. Sampai akhirnya Nona Kecil mengantuk. 

Senja kini telah turun, Nona Kecil terbangun dari tidurnya. Berapa lama ia lelap. Ia tak tahu. Yang ia tahu perutnya kini kelaparan. Ternyata ia tidur cukup lama. Dan setelah diingat-ingat lagi, tadi pagi ia tidak sempat makan apa-apa. Ah, mama pasti kuatir.

Duh, bagaimana ini, sebentar lagi taman bermain ini akan tutup. Aku belum juga bertemu dengan Tuan kecil. Lagi-lagi hati Nona Kecil gelisah. Ia bertemu dengan seorang ibu yang hendak berjalan ke arah pintu keluar. “Ah, kamu pasti Nona Kecil. Dari tadi Tuan Kecil menunggumu di sana.” Kata ibu itu sambil menunjuk ke arah carousel. “Terima kasih ibu.” Nona Kecil mengucapkan kata itu sambil berlari ke arah carousel.

Beberapa anak masih duduk-duduk di atasnya. Ikut berputar dengan lagu dari speaker yang cukup keras. “Itu dia!” Nona Kecil terpekik keras ketika melihat Tuan Kecil sedang duduk di atas salah satu kuda carousel yang tengah berputar. “Tuaaannn Keciiilll.. ini aku.” Nona Kecil melambaikan tangannya, berlari ke arah Tuan Kecil.

Terasa kuda-kuda carousel melambat. Lagu dari speaker mulai mengecil. Nona Kecil berlari menemukan Tuan Kecil di atas carousel. Memeluknya, mencium pipinya. Bunga tulip kuning di tangan Tuan Kecil tampak masih segar.

“Baiklah, Tuan Kecil, mari kita menulis mimpi..” Nona Kecil mengeluarkan lipstik merah yang sedari malam ia ambil dari meja rias mama. Dan mengeluarkan kertas putih dari dalam saku bajunya. 


“Kelak, aku ingin menjadi ibu.”

Ia menulis lima kata.

Tulisan sambung cakar ayamnya tampak tidak beraturan dengan ujung lipstik merah di tangan kanannya. “Nah, sekarang giliranmu Tuan..” Nona Kecil menyodorkan ujung lipstik dan kertas ke tangan Tuan Kecil yang  dari tadi diam saja. Tidak bergerak. Karena Tuan Kecil hanya patung di atas carousel.

Dago 349, 17 November 2011. 11:49.

*ini bukan review. Hanya cerita untuk Track ke-5 : DIORAMA dari Album Tulus. Track ini favorit saya. Kamu bisa beli albumnya dengan Info lengkap http://www.musiktulus.com/

3 comments:

  1. saya suka tulisan-tulisan mbak perempuan sore.
    :)

    ReplyDelete
  2. Saya juga, saya boleh taut yah link nyah.

    ReplyDelete
  3. Numpang komentar nih, blog dan artikelnya bagus juga, komentar juga ya di blog saya www.memebee.net

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...