Wednesday, November 16, 2011

Merapi, Omahku






Membaca buku “Merapi Omahku” yang ditulis oleh Elizabeth D. Inandiak dan Heri Dono membuat saya ingin mengenal sosok Mbah Marijan. Buku ini menulis tentang mitos di sekitar gunung merapi. Dan hubungan yang terjadi antara manusia dan alam. Saya membaca buku ini dalam perjalanan saya ketika naik damri, alasannya: buku ini tipis. Ringan untuk dibawa kemana-mana. Dan saya suka ilustrasinya.

Elizabeth menulis tentang sosok Mbah Marijan atau Simbah. Membuat saya penasaran. Saya hanya mengenal Simbah dari iklan minuman penambah tenaga yang saya lihat di tivi. Sosok yang bersahaja menurut saya. Tapi ketika membaca buku ini yang ingin saya tanyakan kepada Simbah adalah “apa itu kepercayaan?” dan “apa itu keyakinan?”  

Rese juga ketika berpikir bahwa, kalau nantinya saya bisa mengobrol dengan Simbah saya harus menggunakan bahasa Jawa. Lalu saya mulai menghayal, saya datang ke Kinahrejo, minum teh kental manis dengannya. Simbah akan bercerita kepada saya seperti seorang kakek kepada cucunya. Beliau akan mendongeng tentang mitos yang terjadi di sekitar gunung Merapi. Dimulai dari kisah Barata, manusia yang pernah menjadi pemburu di sekitar gunung Merapi, yang kemudian bersahabat dengan seekor gajah. Kemudian si gajah itu sendiri dimantrai-nya hingga menjadi sebuah pohon. Kemudian kita kenal dengan Pohon Beringin Putih. Lalu Simbah juga akan bercerita kepada saya tentang makhluk-makhluk yang tak kasat mata yang hidup di dalam perut gunung Merapi.

Saya masih menghayal, ketika tiba-tiba di depan saya kini muncul sosok itu ...

“Mungkin, kamu harus belajar melihat mengunakan mata batin kamu, The.” Kata-kata itu keluar dari mulut Simbah begitu saja.

“Maksudnya, mata batin Mbah?” saya bertanya dengan muka bingung.

“Kamu harus punya keyakinan diluar kepercayaan kamu. Ini tidak bicara soal Agama atau siapapun yang kamu percaya. Hanya saja meyakini sesuatu, tidak harus sejalan dengan apa yang kamu percaya. Keyakinan selalu bicara tentang soal yang lebih dalam.”

“Oh.” Hanya itu yang keluar dari mulut saya. Sambil masih mencerna semua kata-katanya.

“Saya percaya kepada Tuhan, Sri Sultan, dan Gunung Merapi. Tuhan yang paling pertama dan utama. Lalu kemudian saya meyakini, apapun juga yang diciptakan oleh Tuhan. Yang diciptakan akan kembali.  Saya meyakini itu. Termasuk saat ini, saya kembali kepada-Nya.” Ia tidak melanjutkan kata-katanya.

Ia lalu pergi. Menghilang begitu saja. Meninggalkan saya yang bingung dengan pertemuan singkat itu.

Betul kan, ia seperti kakek. Saya bahkan tak sempat mencium tangannya. Dan ini mungkin bukan kesimpulan: kepercayaan diciptakan. Sedangkan keyakinan tidak. Begitu?

Ah Simbah, semoga tenang di alam sana.

*saya selalu tertarik dengan Jawa, keragaman mitosnya. Toh, kamu tidak perlu meyakininya juga. Bagi saya mitos tentang Jawa, ada atau tidak ada. Selalu menarik. Selalu hidup. 

3 comments:

  1. Saya berdarah Jawa, Theo (mencoba untuk memanggilmu dengan akrab :D maaf apabila lancang).

    Saya sendiri tidak begitu tahu tentang mitos2 di suku yang darahnya mengalir di tubuh saya. Ketika kamu bilang, kamu tertarik dengan Jawa dan mitos2nya, saya merasa seperti ditelanjangi.

    Tapi, Jawa memang kaya dengan mitos dan ragam budayanya. Sampai saya berakhir dengan ketidak mengertian saya. Dan kadang, memang semuanya tidak harus dimengerti. "Pake mata bathin," mungkin begitu kata Simbah.

    ReplyDelete
  2. Ah, saya juga suka Jawa. Karena itu selalu di Jawa. :D

    ReplyDelete
  3. buku ini masih beredar kah?penasaran ingin membaca ceritanya.saya sangat tertarik dengan ilustrasi, sesuai bidang pekerjaan saya.

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...