Tuesday, October 25, 2011

Seperti Balon


Seperti bosan, terkadang warna-warni balon pun tidak menarik perhatianmu. Padahal setelanmu hari itu adalah rok renda putih, dengan keranjang di sisi tangan kirimu. Hendak piknik membawa balon-balon.

Bercinta. 

Seperti katamu selalu, alam terbuka seperti perempuan telanjang, begitu sexy. Membuatmu selalu ingin berlari dengan kaki telanjang, di bawah ranting, di antara hujan, pada keramaian burung.

Hari itu, langit beku. Hujan berhenti. Tak ada sesuatupun yang hangat yang bisa kau temukan seperti biasa :  matanya. Mata yang hangat, dengan bulu-bulu mata yang lentik. Yang selalu kau tunggu-tunggu, menghampiri dengan tubuh hangat : peluk.

Entah mengapa kini, keranjang berisi balon-balon warna di sisi tanganmu itu seperti melompat kegerahan ingin keluar. Mereka sesak nafas. Hanya ingin terbang. Karena hidup mereka bukan di dalam keranjang.

Antara melepaskan dan tidak. Kebingungan.

Kamu teringat nasihat seseorang di masa lalu : “Cinta seperti balon. Dipegang erat : DAR!”






2 comments:

  1. Seperti balon. Ketika dia ku ikat dengan pemberat batu, terbangnya hanya sebatas tali yang mengikat. Menjelang malam, dia menciut. Esok paginya ku lepas pemberatnya. Dia terbang bebas ke angkasa dengan gerak yang perlahan. Semakin keatas. Semakin keatas. Dan pergi.

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...