Tuesday, November 9, 2010

Sepatu Converse

Di luar gerimis tipis-tipis. Aku di balik netbook menulis. Aku tak tahu harus menulis apa. Tanganku menari saja. Kupingku mendengarkan bunyi tuts netbook yang menurutku itu sexy. Sambil sayup-sayup ada Kings Of Convenience bernyanyi menemaniku.

Lalu aku ini mulai mengetik sebuah nama. Nama yang dulu pernah ada bertahun-tahun di hati. Nama yang tidak perlu aku sebutkan siapa. Nama itu begitu istimewa. Tidak tergantikan oleh siapapun.

Terserah, setelah kau baca tulisan ini. Kau akan bilang aku berlebihan atau apa. Aku tidak peduli. Aku ini adalah gadis berponi yang rajin menyimpan hatiku di dalam kardus. Tiap pagi aku rajin mengunjunginya. Aku rajin membersihkan hatiku dari debu. Sesekali mengangin-anginkannya. Dan menjemurnya kalau hatiku sudah mulai lapuk.

Kau tahu di hatiku ada sebuah nama. Ia pria bersepatu converse yang membuat aku jatuh cinta. Aku mengenalnya di hujan pertama di bulan Agustus. Waktu itu aku adalah gadis berponi yang begitu polos dan lugu.

Dan kau adalah pria bersepatu converse yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Kita bercerita di bawah hujan layu. Bunga-bunga hujan berjatuhan di atas kepala kita. Mendengarkan ceritamu selalu membuat aku betah. Aku suka.

Kalender berganti. Tahun-tahun itu sudah rontok.

Lalu hari ini, aku kembali mengunjungi hatiku. Ya, aku masih menyimpannya di dalam kardus. Hatiku begitu dingin dan lapuk. Ada namamu sudah mulai mengelupas di tengah-tengahnya. 




Itu namamu. Hei kau, pria brengsek bersepatu converse. Apa kabar?

2 comments:

  1. terima kasih.tulisan di sini bagus sekali.aku jadi sering mengunjungi.meski tulisanku sepi dan tak sehebat di sini :)

    ReplyDelete
  2. pernah jatuh cinta juga, sama pria bersepatu converse.. ;)

    ReplyDelete

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...