Wednesday, November 17, 2010

Semut Memikul Bangkai




Saya tidak suka mandi. Tetapi ketika saya harus mandi, selalu ada pemandangan yang membuat saya jatuh cinta. Saya suka melihat semut-semut yang berbaris di dinding. Tentu saja ini bukan lagunya Obbie Mesakh.

Menurut saya semut itu adalah binatang yang hangat. Lihat saja setiap kali mereka bertemu. Mereka saling berciuman. Ya, mereka tidak hanya menempelkan muka dengan muka. Mereka berciuman di bibir.

Selain itu mereka suka berbaris teratur. Mengikuti yang di depannya. Kadang mereka pulang, kadang mereka singgah, kadang mereka duduk-duduk. Saya ingin sekali diajak ke rumah semut. Saya ingin sekali menjadi anggota keluarga mereka.

Saya selalu penasaran, mereka bercerita atau bergosip apa hari ini? apa mereka juga tahu kalau Tifatul Sembiring begitu dibenci di twitter. Atau apa mereka juga mengerti kalau hari ini infotainment sibuk memberitakan Arumi Bahcsin.

Tapi hari ini mereka banyak diam. Saya masih duduk di atas closet. Telanjang. Dan memperhatikan mereka dalam diam. Mendadak saya mengerti satu hal, hari ini semut-semut itu agak diam. Mereka tidak banyak bicara, mereka bahkan saling berbisik-bisik.

Saya mulai pasang telinga. Saya bahkan tidak sadar kalau saya semakin menundukan badan saya supaya bisa mendengar dengan jelas, apa sebenarnya yang sedang mereka bisikan. Tapi ternyata mereka juga tidak sedang bisik-bisik.

Hari ini semut-semut itu bisu. Mereka bahkan sedang memikul sesuatu, bangkai matahari? Ya. Matahari itu tampak kaku di atas kepala mereka. Tak ada sinar. Redup. Badannya yang biasanya bersinar, mendadak pucat berwarna putih.

Saya mundur pelan-pelan. Semut yang malang pikir saya. Pantas saja di luar mendung sangat. Semut-semut itu tidak banyak bicara. Mereka terus berjalan dalam diam, memikul bangkai.

Hari ini, ada satu hal yang saya pelajari dari semut:  semut itu binatang yang lemah, tapi mereka berani. Kau belum jadi pemimpin, sebelum kau belajar memikul bangkai.

1 comment:

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...