Thursday, August 5, 2010

Kenangan

mungkin kenangan itu tidak pernah mati. mereka tumbuh di rumah mereka, mereka punya keluarga, mereka menikah, kemudian melahirkan anak-anak mereka, menjadi tua, punya cucu, tidak mati. mereka panjang umur. mereka seperti diary yang tidak pernah usang dimakan coro sekalipun. mereka punya daya tahan yang cukup kuat untuk berjejak di dalam hati siapapun yang memelihara mereka.

kenangan tentangmu tidak pernah mati.

aku ingat, kau pakai kemeja biru. menjemputku sore itu, kau ajak aku ke satu acara yang sangat menurutku, sangat membosankan. kau tahu, aku ini tidak suka sesuatu yang terlalu formalitas. sebelumnya di sebuah tempat makan, aku sedang bergosip tentangmu dengan teman perempuanku. tiba-tiba smsmu hadir. terkejut.

kehadiranmu selalu mengejutkan sekaligus membuat nyaman.

aku lalu memeliharanya dalam rumah kenangannya, aku mau mereka tumbuh menjadi sesuatu yang baik. begini, sederhana saja, aku ingin menceritakan hal baik tentangmu. ah, aku ini terlalu sentimentil. begitulah aku.

lalu, sepanjang hari itu, kita mengobrol panjang. kau bercerita tentang orang dari masa lalumu. yang sepenuhnya belum bisa kau lepaskan. kau masih menyimpan ia di sorot matamu. ya, aku tahu. kau tidak bisa membohongiku. aku terlalu cerdas membaca gelagat.

bahkan gelagat kenangan, yang sengaja ingin kau lupakan.

aku ingat, aku suka berada di dekatmu. aku ingat, diam-diam aku memintamu. aku tidak langsung pulang, kau antar aku ke suatu tempat, karena aku harus bertemu teman-temanku. kau bilang, “hati-hati ya”.

aku selalu suka kata hati-hati. bukan sekedar kata basa-basi, tapi mengingatkanku bahwa kemanapun aku pergi, aku sedang membawa “hati”. aku membawa “hatimu” bersama “hatiku”. aku ingat, ketika kau pergi, aku senyum-senyum sendiri. tertawa pelan, bersama “hati” yang tadi kubawa.

itu terlalu lekat, menempel selalu di ubun-ubun kepalaku. dengan cepat, ingatanku menangkap setiap ekspresi, merekatkan setiap emosi di dalam adegan-adegan itu, membangun kenangan, kemudian menjadi rumah kenangan. kini, terlalu banyak ruang di rumah kenanganku, salah satunya aku sebut dengan “ruang ekspresi”.

ada banyak ekspresimu yang tersimpan acak di sana, tidak mau aku rapihkan.

3 comments:

  1. biarlah kenangan itu ttp dsna!
    :D

    ReplyDelete
  2. suka sekali sama posting yang ini :)

    ReplyDelete
  3. Gue penasaran dengan objek2 'dia' di tulisan2 lo, The.. :)

    ReplyDelete

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...