Wednesday, August 11, 2010

Debu

banyak debu di hatiku, tidak mau aku sapu. banyak debu peninggalan, banyak debu singgahan, banyak debu dari jejakku sendiri, yang tertinggal, kemudian mengotori. sebut aku si pengkoleksi debu.

aku memberi mereka ruang penuh, supaya mereka duduk diam, melepaskan lelah, menangis dalam diam, mewarnai rapuh, menari dalam air mata, sebutlah mereka berbahagia di ruang hatiku.

semuanya tertinggal di bawah cahaya rindu yang setengah redup tapi belum mati. debu-debu yang seperti titik hitam yang aku lihat di tegel putih tadi pagi, kembali mengingatkanku.

mengingatkanku akan perjalanan.



perjalanan jauh yang pernah kau lakukan untuk menemukan hatiku. kau pernah bilang terlalu jauh, terlalu berkelok-kelok, terlalu putus harap, terlalu capek, terlalu berkeringat, hendak menyerah, berhenti saja. namun kau singgah juga, ditemani debu perjalanan. debu dari langkah kaki perjuangan panjangmu.

yang sebentar lagi, tidak berjejak.

2 comments:

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...