Tuesday, August 10, 2010

Sore

 beberapa waktu yang lalu, saya berjanji kepada Papa, kalau saya akan memberikan satu buku Rona Kata untuknya. percakapan antara saya dengannya di sms yang sempat membuat saya berkaca-kaca, akhirnya saya memang menepati janji saya, buku Rona Kata sudah ada di tangan saya, ditambah dengan tandatangan hampir semua penulisnya, spesial untuknya.

selesai launching waktu itu, saya bilang kepada teman-teman, tolong ditandatangani, buku ini untuk Papa saya. dan mereka dengan senang hati melakukannya. saya sudah tidak sabar untuk pulang, dan memberikan buku saya langsung di tangannya.

saya akan menandatangani buku saya untuknya. mungkin tandatangan saya baginya tidak penting, jelas sekali dia tidak butuh itu, karena Papa saya memang bukan seorang formalis, justru dia selalu menabrak semua itu.

ketika menulis ini, sedang gerimis di Rumah Buku. saya sedang menemani Maradilla bertemu editornya. saya berpikir untuk menulis ini, ketika mengirimkan sms ke Hp Mama, ada pesan dari Papa untuk saya.

lagi apa Mam?

lagi minom teh sore, Papa, bilang su dapa buku ka blom? kalo sudah, kalo bisa kirim lewat titipan kilat jua.

saya membayangkan Papa dan Mama, sedang duduk di depan rumah. sedang minum teh sore. saya pun demikian, sedang duduk dengan teh jahe dan kentang goreng, di teras rumah buku.

teh sore. teras. buku.. itu Papa.




kopi sore. teras. buku.. itu saya.

saya mengerti sekali, Papa tidak butuh tandatangan saya. dia butuh buku baru, yang kebetulan kali ini ada tulisan saya, anak perempuan bungsunya di sana.

Papa rindu mau baca buku baru.

begitu isi sms selanjutnya.

3 comments:

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...