Tuesday, January 22, 2013

Mungkin Lebih Baik Kita Mengobrol Dan Saling Mengisi





Membaca tulisan Taufiq Rahman di Jakartabeat.net, mengubah pemahaman saya dalam beberapa hal tentang memasuki usia 30. Ya, saya sebentar lagi akan memasuki usia 30. Tetapi belum, masih ada beberapa bulan lagi.

Saya yang di tahun ini sedang berencana untuk melakukan banyak hal. Saya yang tidak berhenti bermimpi. Saya yang kini setiap bangun pagi berpikir bahwa saya bisa melakukan banyak hal untuk banyak orang di luar sana. Saya seorang impulsive, yang menyenangi hal-hal yang kebalikan dari orang-orang sesusia saya. Dan saya masih tetap naik angkot dan pergi makan di warteg.

Saya juga memuji kebiasaan mengopi perlahan. Dan merenung dalam-dalam. Jika mengamati kebiasaan orang-orang di sekitarmu, saya bahkan melihat bahwa kecenderungan orang-orang yang begitu aktif di social media seperti twitter dan facebook. Hanya untuk memamerkan sesuatu. Kita gampang mengadili orang lain. Dan kita gampang sekali berkata-kata kasar terhadap orang lain.

Social media seperti membuat saya dan kamu memiliki dua kepribadian. Kita menjadi sangat ramah ketika bertemu dengan boss di kantor. Dan memaki-maki boss kita di status yang kita buat (twitter, facebook, bbm.)

Atau dengan akun-akun fiktif yang kita buat, kita seperti menjadi orang lain. Menjual seksualitas/porno sebagai sesuatu yang sangat santai untuk dilakukan. Ketika menulis ini saya sama sekali tidak bermaksud untuk menyinggung soal moral. Tetapi saya menyinggung value saya dan kamu ketika diciptakan sebagai manusia.

Manusia-manusia digital. Yang lupa akan hal-hal sederhana. Termasuk lupa pada bagaimana menertawakan diri sendiri. Juga lupa akan keindahan titik-titik hujan di jendela.

Saya dan kamu, terlalu sibuk untuk mengejar sesuatu yang sifatnya fana dan dangkal. Dan kita lupa bahwa, di dalam diri kita ada nilai kekekalan.

Beberapa waktu ke belakang, ketika pergi makan malam dengan beberapa teman, saya menerapkan rules: no handphone while dinner. Dan aturan itu dilanjutkan dengan, mari kita mencari topik-topik sederhana yang akan kita obrolin ketika makan malam. Belum berjalan seutuhnya, karena beberapa teman saya masih gatal untuk mengecek handphone mereka.

Ketika hampir tiga minggu, saya menghabiskan waktu saya Liburan Natal bersama keluarga saya di rumah. Saya begitu bangga, karena saya bisa menghabiskan banyak waktu saya untuk mengobrol dengan ayah saya. Kami bahkan berdiskusi tentang banyak hal. Tidak ada handphone. Hanya mengobrol.

Dan ketika kembali ke Bandung, saya menjadi orang yang kosong lagi. Ketika waktu-waktu saya banyak dihabiskan di social media tanpa esensi. Sebaiknya kita pikir-pikir lagi esensi kehidupan kita, sebelum segala sesuatunya menjadi terlambat.

Dalam hal ini, saya setuju dengan tulisan Taufiq Rahman yang mengatakan: Bagaimana jika pilihan untuk generasi 30-an sekarang adalah untuk berjalan lebih pelan. Bangun siang, membaca buku lebih sering, menikmati musik dan lebih banyak berdiam dan berpikir.


2 comments:

  1. No cell phone while dinner is great....
    Istri saya selalu menerapkan hal itu di rumah...
    thanks for sharing....

    ReplyDelete
  2. nice post mbak! di era globalisasi kayak gini semua orang pada butuh hape, netbook, socmed dsb. katanya kalo nggak punya dianggap gak G.A.H.O.L :P
    banyak sih sisi positif yang bisa kita ambil, tapi kadang2 socmed bisa bikin anti-sosial.

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...