Wednesday, January 30, 2013

Ayah Dengan Nasihat Nasihatnya





Suatu malam saya pernah membombardir twitter dengan tweet-tweet saya tentang Ayah. Entahlah tapi saya selalu bangga melakukannya. Saya selalu bangga menulis sesuatu tentang Ayah. Saya adalah anak perempuan yang beruntung punya kebanggan itu. Ayah adalah inspirasi besar saya. Dalam melakukan apapun, ia adalah orang pertama yang saya contoh.

Ketika pulang liburan selama tiga minggu di rumah. Saya punya waktu mengobrol dengannya. Kami mengobrol banyak. Kami berdiskusi tentang banyak hal. Kami berbicara seperti rekan. Saya dengan ide-ide saya. Dan Ayah dengan masukan-masukannya. Termasuk rencana besar saya untuk membuat perpustakaan dan punya sebuah “pelatihan kreatif” yang bisa pergi ke daerah-daerah dan berbagi tentang mimpi dan bagaimana menghidupi mimpi itu.

Ayah selalu menyambut baik ide-ide saya. Ia seperti percaya sepenuh penuhnya kepada saya, anak perempuannya yang padat akan mimpi ini. Ia seperti memberikan ruang kepada saya untuk bisa “melakukan apa saja yang saya mau.” Dan ketika berdiskusi dengannya, saya tidak pernah merasa bahwa saya adalah anak kecil atau anak kemarin sore. Melainkan kami adalah teman bicara yang seimbang.

Satu hal yang membuat saya bersyukur juga adalah: rumah adalah tempat berdiskusi yang menyenangkan. Ketika kami belajar menerima kritikan tanpa tersinggung dan belajar untuk saling memberi masukan. Malam terakhir ketika saya dan kakak saya akan kembali ke Jakarta di keesokan harinya, Ayah menasihati kami untuk: hiduplah dan saling membantu orang lain. Hiduplah dan saling tolong menolong orang lain.

Nasihat sederhana, tapi begitu terngiang-ngiang. Saya pikir bukankah itu esensi hidup seorang manusia. Ayah saya tidak sempurna. Tapi entahlah—saya merasa hidup saya begitu sempurna ketika pertama kali saya belajar bicara dan memanggil ia, “Papa.”

4 comments:

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...