Wednesday, February 1, 2012

“Sick” Society


gambar dari jakartapost


Beberapa hari terakhir ini saya menghabiskan waktu untuk browsing dengan membaca banyak sekali berita sekaligus. Biasanya berita yang saya baca berasal dari link yang di-share di twitter. Lalu saya menemukan satu berita dari jakartapost.

Inti dari berita di atas adalah bagaimana saat ini banyak sekali orang-orang yang kemudian takut keluar rumah karena jalanan sudah semakin tidak aman. Banyak hal yang buruk yang nantinya bisa menimpa mereka di jalan. Dan yang lebih mengerikan lagi adalah banyak sekali masyarakat “sakit” yang saat ini sedang berkeliaran di luaran sana. Mereka sudah tidak lagi bisa dipercaya. Mereka orang jahat. Dan tidak ada lagi orang baik di muka bumi ini.

Muncul satu pertanyaan di kepala saya “benarkah orang baik sudah tidak ada lagi di muka bumi. Lalu kemanakah mereka pergi?”

Oh. Mungkin mereka saat ini sudah ada di surga.

Kalau banyak orang baik pada akahirnya hanya berakhir di surga. Untuk apa bumi diciptakan? Lalu apa mungkin bumi ini hanya memang diciptakan untuk orang jahat. Di samping berita buruk yang saya baca. Sebutlah ini adalah proses kontemplasi bagi saya supaya saya menemukan dimana orang-orang baik itu ada.

Ketika di angkot saya masih menemukan anak laki-laki kecil yang sedang berbincang akrab dengan ayah yang duduk di sampingnya. Mereka tertawa-tawa. Menertawakan bahasa yang mereka mengerti sendiri. Pada waktu berikutnya di angkot ada ibu berjilbab yang diisengi terus oleh anaknya. Dan si ibu tampak tidak keberatan. Ibu dan anak itu malah bermain-main dengan si anak yang menarik jilbab ibu dan sembunyi di baliknya.

Ada anak muda yang duduk-duduk di sebuah cafe. Tanpa bermaksud untuk mencuri dengar percakapan mereka. Saya tahu bahwa mereka sedang berbagi passion dan cerita masa depan. Mereka pacaran atau tidak, saya tidak ingin menebak-nebak.

Ketika saya makan ke sebuah warung kecil saya menemukan ibu warung yang tiba-tiba menasihati saya dan seperti menguatkan ia bilang “sabar” beberapakali. Padahal ibu warung itu tidak kenal saya. Saya juga tidak pernah cerita apa-apa kepada ibu warung.

Pada kesempatan lain lagi saya menemukan orang random yang memberikan saya kalung kecil yang manis berwarna oranye. Atau hanya mentraktir makan malam. Atau saya juga mendapat beberapa bbm yang masuk yang entah kenapa it’s just made my day.

Dan ketika saya pulang tengah malam sendirian. Saya masih bisa duduk-duduk makan sendirian di sebuah fastfood. Dan pulang dengan angkot yang mengantar saya selamat sampai di tujuan. Lalu pada kesempatan selanjutnya, saya menemukan seorang teman yang bertanya kepada saya “The, punya pengalaman tentang senyum nggak?” ternyata teman saya ini percaya bahwa senyum adalah hal paling kecil yang bisa dilakukan untuk mengubah orang lain.

Sejak saat itu saya mencoba menambah senyum di bibir saya. Ketika bertemu dengan orang saya tidak hanya senyum. Saya bahkan tertawa kencang. Kencang sekali. Oh, saya memang tidak bisa tertawa pelan.

Pertanyaan saya di atas terjawab sudah “kemanakah orang baik pergi?” mereka berubah menjadi senyuman. Senyuman yang menular. Pada akhirnya juga akan membuatmu tersenyum.

Tapi tidak lantas senyuman bisa membuat pembunuhan dan kematian mengerikan di luar sana berakhir. Tidak lantas kondisi jalanan seketika berubah aman hanya dengan senyuman yang kita berikan. Tidak lantas “sick” society di luar sana berkurang. Mereka mungkin akan bertambah banyak. Dan bahkan semakin brutal. Karena dunia ini tidak akan menjadi lebih baik. Hari-hari akan semakin jahat.

Tapi pagi hari ini ketika saya bangun dan melihat ke cermin. Ada perempuan biasa saja dengan senyum lebar. Penanda ada kebaikan di sana. Yang mungkin bisa ia tularkan kepada orang lain yang bertemu dengannya sepanjang hari.

What you reppin? good or bad. There's no grey area. 


2 comments:

  1. nice kak Orange :)Selalu dimulai dari diri sendiri, bukan? :) God bless your smile :)

    ReplyDelete

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...