Thursday, February 2, 2012

Idol-Idol (an)


Siapa sih diantara kita yang tidak punya “idol” seseorang yang biasanya kita “sembah” dalam hal ini kita mengagumi karyanya, cara berpakaiannya, cara bicaranya, cara berjalannya, cara bergaulnya. Dan silakan tambahkan daftarmu sendiri.

Kita tidak hanya sekedar kagum. Tapi kita seperti menjadi mirip dengan “idol” kita, karena kita bahkan meniru dia. Kita ingin mirip. Bahkan kalau bisa sama. Walaupun saya sendiri cenderung tidak setuju dengan kalimat terakhir.

Saya dibesarkan dengan mendengarkan musik Teti Kadi, Jim Reeves, sampai dengan musik pop akhir 80-an dan awal 90-an siapa lagi kalau bukan aliran boy band di jaman itu Boys II Men, Boyzone, Caught In The Act, Bed and Breakfast, Backstreet Boys, Hanson, The Moffats.

Saya lupa ketika kecil saya pernah dibelikan kaset apa, tapi seingat saya kaset pertama saya Hanson. Ketika itu dibelikan kakak saya yang sudah kuliah di Jogja. Dan kemudian dilanjutkan dengan merekam sendiri hits-hits keren dari radio (saya rasa kami yang tumbuh pada jaman itu melakukannya)

Ketika SMP saya sering sekali nongkrong di radio. Waktu itu ada seorang penyiar radio ganteng, idola semua anak remaja kota Ambon namanya adalah Patrick Courbois. Kalau sekarang saya jadi penyiar, Patrick-lah yang paling banyak bertanggungjawab. Karena saya suka sekali dengan dia. Ketika saya menulis ini juga, mungkin Patrick tidak akan pernah tahu. Bahkan sejak SMP saya memang sudah kepikiran untuk menjadi penyiar suatu hari nanti.

ini Patrick? tapi Patrick yang versi saya bule Ambon Jerman. Ganteng abis :)

Saya juga tidak bisa dibilang anak yang gaul banget. Tapi kalau banyak berteman, iya. Karena dari dulu saya suka sekali berteman. Saya masih ingat di kamar saya penuh dengan poster/pin-up dari majalah-majalah remaja yang biasanya saya pajang. Antara lain yang nge-hits di jaman itu: Leonardo Dicaprio, Devon Sawa, Brad Renfro, dan  Hanson. Haha. Kamar saya penuh dengan poster dan pin-up Hanson. Karena saya bercita-cita ingin menikah dengan Jordan Taylor Hanson. Ya, saya memang gila dari dulu.

Saya punya idola. Sepanjang hidup saya selalu terkagum-kagum dengan orang lain. Ketika SMP saya punya seorang teman namanya Anna dan Astrid. Mereka berdua punya tulisan yang bagus. Setiap hari di rumah saya berlatih menulis supaya tulisan saya mirip dengan mereka. Dan berhasil. Saya punya tulisan yang bagus.

Jika cerita lebih lanjut, tulisan ini akan panjang sekali. Tetapi yang berusaha yang saya ungkapkan adalah: tidak masalah punya idola. Silakan terinspirasi darinya. Tapi kamu adalah kamu. Saya adalah saya.

Sayang sekali saya tidak akan menjadi orang lain. Tidak mau. Dan tidak bisa. Karena saya tahu saya punya panggilan hidup yang berbeda dengan kamu. Saya punya cita-cita, mimpi, tujuan hidup, yang hanya bisa dilakukan oleh diri saya sendiri dan bukan orang lain.

Pagi ini saya mendapat bbm dari seseorang yang bilang: “Ih, enak yah jadi kakak bisa MC, nyanyi, ngajar bla bla bla.”

Mungkin saat ini, saya “idol” itu. Tapi kamu juga bisa jadi “idol” dengan caramu. Dengan panggilanmu. Dengan talenta yang kamu punya. Dengan segala kapasitas yang ada pada diri kamu.

Karena satu hal yang saya percaya, saya dan kamu. Kita tidak berbatas J

1 comment:

  1. "Saya masih ingat di kamar saya penuh dengan poster/pin-up dari majalah-majalah remaja yang biasanya saya pajang. Antara lain yang nge-hits di jaman itu: Leonardo Dicaprio, Devon Sawa, Brad Renfro" ---> hahahhaa...gw juga, The...oia, tau Jonathan Brandis juga ga? Doi baru saja mendahului kita

    ReplyDelete

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...