Wednesday, February 8, 2012

Sebuah Tulisan Tentang Puisi Yang Dinyanyikan


Membaca sebuah artikel tentang poet di blog.sfgate.com saya menemukan sebuah pernyataan yang menarik sekali yaitu

“Musicians have their own lists–dozens of them. So, for this project, no Bob Dylan, no Jim Morrison, no Springsteen, unless they have a separate life as a poet. Ryan Adams, for example, has published at least two books of poems. Jewel and Tupac (two sides of the same poetic coin?) have also written books of poetry. So, those works could count but their lyrics, not.”

Beberapa musisi terkenal di luar sana adalah penyair. Saya membayangkan mereka menulis puisi kemudian menyanyikannya dalam hati. Sebelum akhirnya membuatkan musik yang keren.

Ada puisi-puisi sepi yang akhirnya digubah menjadi lirik sedih pada sebuah lagu. Ada pula puisi-puisi cinta yang digubah menjadi lirik gembira. Tapi ada juga lirik sedih yang dikawinkan dengan musik gembira.

Saya suka sekali dengan Emilliana Torini, perempuan yang berasal dari iceland ini mencipta lirik-lirik sepi yang mampu membuat saya hanyut. Ada analogi rasa cinta yang begitu dalam kepada seseorang. Ada penantian yang tidak pernah menjadi nyata. Tapi ada kekuatan ketika mendengarkan lagunya.



Pertanyaannya apakah Emilliana mencipta lirik dulu atau mencipta musiknya terlebih dulu. ‘Sunny Road’

wrote you this
i hope you got it safe
it's been so long
i don't know what to say
i've travelled 'round
through deserts on my horse
but jokes aside
i wanna come back home
you know that night
i said i had to go
you said you'd meet me
on the sunny road


Perjalanan panjang yang dilakukan untuk bertemu dengan seseorang. Mungkin cinta itu adalah perjalanan panjang itu sendiri. Untuk kehilangan—menemukan—tidak lagi menemukan.

i never married
never had those kids
i loved too many
now heaven's closed its gates.
i know I'm bad
to jump on you like this
some things don't change
my middle name's still 'Risk'
i know that night
so long long time ago
will you still meet me
on the sunny road

Ketika mencintai terlalu dalam ada risiko. Risiko bahwa bisa jadi kita tidak akan pernah ada bersama-sama dengan orang itu seumur hidup. Risiko untuk tidak pernah memiliki. Tapi apa kita pernah benar-benar memiliki seseorang?

well, this is it
i'm running out of space
here is my address
and number just in case.
this time as one
we'll find which way to go
now come and meet me
on the sunny road

Saya pikir ada kepastian di akhir. Akhir adalah kesimpulan. Saya selalu mengira akhir dari segala sesuatu adalah jawaban. Padahal belum tentu. Akhir bisa jadi justru adalah proses mengawali. Akhir bukanlah penutup yang selama ini kita cari. Akhir adalah awal yang baru. Memulai kembali. Dan tidak tahu kapan kita bisa mengakhirinya.

Sunny Road.

Adalah imajinasi. Sebuah jalan mimpi. Hanya ada pada sebuah petualangan yang diciptakan oleh diri kita sendiri. Sejujurnya tidak pernah ada.

Ini hanya satu contoh sebuah lirik sepi. Puisi sepi. Kemudian dinyanyikan. Dinyanyikan dalam hati. Atau menjadikannya musik yang bagus sekalian. Lagu adalah puisi yang dinyanyikan. Penyanyi adalah penyair yang mendengungkan karyanya di dalam hati menjadi nada. 


No comments:

Post a Comment

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...