Wednesday, February 8, 2012

titik.





Saya adalah orang yang pandai membuat kesimpulan. Saya terbiasa saja mengucapkan kesimpulan. Mengumpulkan beberapa fakta, menganalisa, dan pada akhirnya sampai pada satu titik kesimpulan. Yang saya pikir itu mungkin benar. Padahal saya tolol. Kesimpulan saya kadang berakhir salah.

Seperti pasangan. Saya berpikir bahwa hubungan yang kemarin dan kemarinnya lagi adalah hubungan yang terakhir. Nah, kan! belum apa-apa saya sangat berani sekali mengambil kesimpulan. Nyatanya kali ini saya salah. Dan kesalahan saya fatal.

Ia bukan yang terakhir. Ia mematahkan semua kesimpulan baik saya. Ia bukan kata penutup. Tidak ada ucapan terima kasih. Tidak ada doa dan harapan dala kesimpulan itu. Ia hanya segumpal titik.

...

Titik seperti tidak memberikan kesempatan kepada saya untuk menyambungkan kalimat saya. Padahal selama ini kami sama-sama membangun sesuatu. Kami membangun kata lalu menjadi kalimat lalu menjadi sebuah paragraf. Saya yakin sekali itu kami bukan hanya saya. Karena sejak lama saya sudah meninggalkan kata saya.  

Nyatanya saya salah. Ia merasa tidak membangun apa-apa. Ia merasa tidak terlibat. Ia merasa ingin lepas tangan saja. Menghapus kalimat demi kalimat. Kata demi kata. Lalu ia akan memberikan titik.

...

Malam-malam mengobrol dan tertawa panjang selesai. Malam-malam ciuman panjang selesai. Kali ini saya salah telak. Saya bahkan malu pada kesimpulan saya sendiri: bahwa ia akan menjadi yang terakhir.

Ia akan menjadi titik saya. Ia adalah kesimpulan saya.

Saya salah.




1 comment:

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...