Tuesday, July 26, 2011

Dead Poets Society






Satu hal yang saya suka dari John Keating adalah binar matanya. Ada kehidupan di sana. Terlihat ketika ia menyampaikan sesuatu. Akhirnya saya berpikir begini: saya harus menikah dengan laki-laki yang punya binar mata. Ya, laki-laki dengan binar mata tidak hanya sexy, mereka tidak hanya hidup, tapi juga merayakan hidupnya.

John Keating merayakan hidupnya. Ia tahu bahwa hidupnya lebih dari sekedar biasa. Ia mengerti sangat bahwa adalah suatu kemewahan ketika bisa mengisi hidupnya: dengan kehidupan itu sendiri. Saya menulis ini di sebuah hari yang cukup panas. Adalah pilihan yang tepat ketika saya bangun lalu hendak memilih baju yang tepat untuk hari itu, karena saya mengerti bahwa, hari ini adalah hari yang istimewa. Begitupun besok dan seterusnya. Saya tidak ingin biasa.

John Keating menjadi contoh yang baik. Karakter dan kegilaan yang patut ditiru. Mendadak saya begitu iri dengan Neil, Todd, Knox, Charlie, Richard, Steven, Gerard. Karena mereka duduk bersama, bertemu mata dan mata dengannya, berpikir dan belajar bersama. Andai saya juga salah satu dari murid-murid itu. Ah, tapi ini Welton Academy, sekolah khusus pria.

We don't read and write poetry because it's cute. We read and write poetry because we are members of the human race. And the human race is filled with passion. 

What’s passion? Saya menulis definisinya pada tulisan-tulisan saya yang lalu. Tak ada yang pas lagi. Kau akan tahu seseorang filled with passion: dari binar matanya. Ada gairah. Ada nafsu. Lebih kepada birahi kepada apapun yang ia kerjakan. Ia akan melakukannya, seperti tak ada hari esok.

Saya menonton film ini, lebih kepada judulnya. Saya mencintai puisi. Kelak, siapa tahu saya bisa seperti John Keating. Begitu tergila-gila kepada apa yang saya kerjakan. Lalu banyak yang mencap saya sebagai orang gila—biarkan saja. Yang saya tahu, saya jatuh cinta kepada apapun yang saya lakukan dan itu lebih dari cukup.


Oh, John Keating sangat menginspirasi. Kelak kalau kau bertemu dengan laki-laki yang punya binar mata sepertinya, jangan lupa beritahu saya, mungkin saya akan menikahinya.

Carpe, carpe diem, seize the day boys, make your lives extraordinary.

Simpang Dago, 26 July 2011. 12:0—hari ini saya pakai rok mini, kaus gombrang, anting panjang, sunglasses dan tetap naik angkot. Well, ini cool.
  

2 comments:

  1. carpe diem...
    love this movie XD

    ReplyDelete
  2. ada satu kata untuk gairah seperti itu, itqon

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...