Monday, July 25, 2011

ASA - Paquita







PAQUITA dengan album barunya seperti memberikan rongga di dalam dada. Seperti huruf Q yang hadir pada namanya. Tidak hanya lingkaran kosong, melainkan lingkaran kosong yang diberikan secuil garis, secuil kaki sekaligus sebagai penanda bahwa ada sesuatu yang mengikuti kehadirannya. Kemunculannya di tahun 1995 dengan lagu “Dua Manusia” seperti menyihir saya yang masih abege pada waktu itu untuk jatuh cinta, bukan hanya terhadap lagunya, penampilannya, tetapi kepada apa yang dia kerjakan.

Kini setelah enam belas tahun kemudian, ia tetap memesona. Album ASA yang dikemas dengan nuansa chill-out membawa saya duduk di sebuah lounge minimalis. Gaun putih tipis saya melambai. Lipstik merah menyala saya tersamarkan oleh remang lampu di dalamnya. Kemudian duduk di kursi ujung bar, menyisakan kursi kosong satu persis di sebelah saya seperti menunggu seseorang.

Pelayan kemudian datang membawakan sebundel menu. Mata saya lalu tertumbuk pada sederetan menu minuman yang tersedia: dalam kelembutan pagi, sudikah kamu, alam maya, tentang kita, melati suci, rintik hujan, terbunuh sepi, damai.” Persis di bawah nama minuman-minuman itu juga terdapat sebuah penjelasan singkat mengenai perasaan seperti yang nantinya akan datang ketika menyicip minumannya—meminumnya sampai habis.

Tentu saya penasaran. Saya memanggil pelayan lalu mulai memesan semua menu minuman tersebut. Pelayan itu tampak kaget. Sebelum akhirnya patuh, kembali ke balik meja bar untuk mengerjakan pesanan saya.


Kursi di sebelah saya masih tetap kosong. Lounge itu juga tidak terlalu penuh. Saya melirik handphone yang sedari tadi menyala, tidak ada tanda-tanda sms atau telepon. Mungkin dia terlambat.  Pikir saya. Padahal saya sendiri benci menunggu. Tapi sudahlah, bukankah itulah prinsip waktu. Ketika kita “menunggu” kita akan lebih menghargai makna “kedatangan.”

Pelayan itu telah kembali. Kini di hadapan saya sudah hadir delapan racikan minuman dengan warna-warni yang berbeda. Ia lalu menjelaskan mereka satu per satu. Saya tergoda untuk langsung menyicip melati suci, sekilas ujung lidah saya tidak merasa apa-apa. Tetapi ternyata ada gairah tersembunyi menyembul pada pertengahan dan akhir. Dengan rasa yang berubah-ubah. Seperti magical fruits, mengubah lidah saya yang tadinya asam menjadi manis. 

Saya lalu mencoba rintik hujan meneguknya dan merasakan cairannya turun ke dalam tenggorokan. Persis seperti meminum hujan, ada kesan tegas lalu dingin yang terpelanting kemudian menyisa sunyi panjang di akhir. 

terbunuh sepi, pun tak luput saya icip. Rasanya begitu misterius. Seperti langkah-langkah orang di ujung jalan gelap, sepi, mencari cahaya. Mencari peluk untuk pulang. Dan sepanjang jalan itu, ia menyimpan tanya. Tanya yang dingin. Yang belum tentu ada jawaban. Selesai menyicipnya, saya bergidik.

dalam kelembutan pagi. Begitu lembut.  Mengalir Seperti sinar kuning yang merambat ke sulur-sulur daun. Menyibak gordenmu perlahan. Membangunkanmu dengan rindu. sudikah kamu pun meninggalkan rasa tanya yang tidak terlalu tergesa. alam maya seperti membawamu terbang ke awan. Mengapung di dalam birunya. Begitu ringan. tentang kita, ada kesan waas ketika menyicipnya.  Kenangan lama yang hampir terlupa—diingatkan kembali. Lalu damai, seperti judulnya, ia menyisa damai. Seperti angin sepoi yang menyapu muka. Begitu tenang.

Saya menghabiskan semua minuman itu  dengan rakus. Kursi sebelah saya masih saja kosong. Ia tidak  datang. Kali ini saya tidak lagi menangis seperti waktu itu, ketika ia tidak datang. Mungkin belum waktunya, atau memang waktunya belum memilih saya.

Di luar lounge, tampak gerimis kecil turun perlahanan. Saya masih betah duduk di kursi itu—lebih tepatnya tidak mau pulang. Ingin terus menyicip ASA—yang adalah racikan istimewa disuguhkan oleh Paquita. Tidak biasa. Tidak juga sederhana. Kemewahannya justru tersembunyi ketika kau meminumnya perlahan, satu demi satu.

Mengulanginya kembali, lalu mabuk.

Dago 349, 23 July 2011. 12:57

1 comment:

  1. album yg keren tuk dikoleksi....gw terkesan mission paquita ingin menjembatani musik 70-80-90-an yg sangat powerfull indah bermakna liriknya tematis dan masterpiece forever dengan generasi sekarang....apa itu artinya lagu2 sekarang kebanyakan cenderung ala kadarnya? cepat populer cepat pula tenggelam, ga ada keragaman tema, ga bermakna syairnya, ga mampu meninggalkan kesan kenangan jangka panjang, dstnya ? entahlah gw ngelihatnya emang spt itu seh heheheeee salam

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...