Monday, July 25, 2011

Bercinta di Bawah Bulan







Bercinta di Bawah Bulan. Ketika membaca judul saya bertanya “kenapa bukan Bercinta di Bawah Bintang” atau “Bercinta di Bawah Langit” atau “Bercinta di Bawah Mars” –sekalian, supaya menegaskan bahwa benda langit lainnya juga memiliki keistimewaan tersendiri. Tapi bulan memang istimewa. Sinarnya seperti punya pesona, mampu membawa seorang penyair maupun penulis untuk menulis sesuatu yang indah tentangnya.


Salah satunya adalah Kurnia Effendi. Saya tidak mengenalnya secara personal. Bahkan belum bertemu muka dengan muka. Tapi salah satu karyanya yaitu “Bercinta di Bawah Bulan” membawa saya hanyut. Permainan kata yang tidak gampang ditebak. Membuat saya harus membaca berulang kali, baru kemudian saya mengerti jalan ceritanya secara utuh. Agak sulit menemukan yang seperti dia. Beberapa penulis yang saya kenal—dan saya juga membaca karya mereka. Terkadang hanya perlu sekali membaca sebuah halaman, tanpa perlu diulang, dan kesimpulannya saya akan mengerti.


Tapi tidak dengan tulisan Kef pada buku ini, begitu ia biasa di sapa. Ada misteri yang perlu dipecahkan pada setiap permainan katanya. Ada jawaban terselubung yang hendak ia sampaikan, membawa saya merenung sebentar tentang apa jawaban itu. Lalu ada kehilangan. Setelah judul yang mistis, Kef seperti menuntun saya untuk memaknai kata “kehilangan” itu sendiri. Pada kata “Kehilangan” ada ketakutan yang berkepanjangan. Atau ada rindu yang berkepanjangan. Kehilangan adalah perasaan yang pada akhirnya menimbulkan was-was.


Pada Bercinta di Bawah Bulan Kef seperti menata “kehilangan” dengan begitu rupa. Tidak ada kecurigaan pembaca. Dan pada akhir sebuah cerita hilang sudah. Kef seperti ingin mengatakan bahwa “kehilangan” itu sendiri adalah sebuah perjalanan. Ia bukan sesuatu yang datang ujug-ujug. Ia adalah bagian dari manusia. Dan sudah selayaknya manusia menganggapnya sebagai suatu proses yang alamiah.


Sampai di sini saya berpikir, saya pernah menulis seperti ini: kehilangan adalah perjalanan untuk menemukan. Dan menemukan adalah perjalanan untuk kehilangan. Seperti sinar bulan. Ketika menemukannya kita pun harus siap untuk kehilangannya. Begitupun ketika kita kehilangannya, kita harus siap-siap untuk menemukannya.


Berarti tidak ada yang baru di muka bumi, ini hanya kesimpulan sementara saya. Untuk mengetahui jawabannya, mungkin kamu perlu membaca buku ini. Kumpulan cerpen yang akan membuatmu “kehilangan” kemudian “menemukan.”

Dago 349. 24 July 2011. 17:37—menyelesaikannya ditemani Jacob, sebelum akhirnya ia pergi bermain dengan Hunter dan Brino.  



No comments:

Post a Comment

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...