Saturday, July 16, 2011

Hujan yang Masih Bunyi


Bermimpi tentangmu lagi—tentang mukamu yang sedang kusut. Tentang rambutmu yang acak-acakan. Tentang senyummu yang asin. Tentang bibirmu yang mengekerut—yang aku tahu rasanya.  Kau tidak bayak berubah. Masih percaya bahwa hujan punya nyawa. Masih suka berjalan kaki sendirian. Yang cemburunya masih suka menyala. Lenganmu masih berisi seperti dulu.

Di situ biasanya aku suka dipeluk. Karena aku percaya bahwa pelukanmu selalu menyembuhkanku. Bahkan luka selama bertahun-tahun pun pulih. Kau akan memelukku lama, aku akan berselonjor dengan celana pendek favoritku. Kau akan mengelus-elus punggungku. Dan aku selalu suka—kau pun melakukan hal yang sama di mimpiku.

“Aku kangen.”

Hanya itu yang terdengar di sela-sela pelukanmu. Aku tidak membalas ucapanmu. Aku hanya memejamkan mataku. Mendengarkan bunyi detak jatungku dan jantungmu yang menyatu. Desahan nafas yang naik turun milik kita berdua membumbung pelan di udara. Terasa sesak. Apakah karena ruangan yang sempit. Atau karena hati kita yang sama-sama penuh. Hendak mencurahkan sesuatu.

Sementara di luar hujan. Kau selalu percaya hujan punya nyawa. Bahkan bisa bicara. Waktu itu aku pernah iseng bertanya “apa hujan juga pernah pilek dan terbatuk-batuk?” kau tertawa, kemudian menjawab “tentu saja. Tetapi mereka rentan sakit. Hujan tahu bagaimana melindungi dirinya sendiri supaya tidak kedinginan.”


Aku tak paham maksud jawabanmu. Tapi itulah dirimu, manusia yang penuh dengan keindahan. Termasuk pemikiran-pemikiranmu yang absurd yang bikin aku jatuh cinta.

Masih hanyut di dalam pelukan. Kali ini ada sesuatu yang basah. Hangat yang meluruh jatuh ke bahu. Mungkin itu air mata. Air mata siapa? Aku tak tahu. Demi Tuhan! kalau itu adalah air mataku, aku hendak mengutuk diriku sendiri dalam hati. Aku sudah berjanji tidak akan menangis. Apalagi di depanmu, karena aku punya gengsi. Aku punya harga diri.

Tapi bahkan aku sendiri tidak berani membuka mataku. Aku takut melihat air mataku sendiri. Kau mengerti perasaanku, sesaat pelukanmu bertambah erat. Aku mulai gemetar. Tubuhku terguncang-guncang perlahan. Mungkin karena air mata yang keluar semakin banyak. Di luar hujan berbunyi. Aku hendak lari ke hujan saja, supaya kau tidak melihat mataku yang basah pikirku. Tidak bisa. Pelukanmu masih sangat erat. Aku masih ingin hanyut.

Aku mencoba berkata-kata. Tak ada satupun kata yang keluar dari bibirku. Aku mencoba membuka mulutku, tapi tak bisa. Seperti ada gembok besar di depan mulutku. Terkunci. Di dalam keadaan seperti ini, aku ingin menciummu. Mungkin ini satu-satunya jalan pikirku. Aku menarik tubuhku pelan dari pelukanmu. Pelan sekali, tak ingin jauh dari hangat tubuh. Dan nafasmu yang masih naik turun.


Mencium bibirku sendiri.

Pantulan cermin di depanku silau. Tapi aku masih bisa melihat jelas. Ada kau di sana—mukamu yang kusut, rambutmu yang acak-acakan. Di luar hujan masih bunyi.

Dago 349. 16 July 2011. 09:28


3 comments:

  1. nice post :) jadi kangen sama pacar huhu >,<

    ReplyDelete
  2. Wow..
    Dalam bgt The..
    Mari kita minum wine sambil mendengarkan hujan bercerita.

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...