Wednesday, July 13, 2011

Zebra Cross



weheartit


Jalan kaki adalah sebuah hal kontemplatif bagi saya. Selain duduk di angkot atau duduk di kloset kamar mandi. Risiko yang sering saya alami ketika jalan kaki adalah bertemu dengan orang gila dan yang paling sering adalah disuit-suitin. Untuk alasan yang terakhir, saya rasa mereka pasti rugi jika tidak melakukannya. Trotoar pas-pasan yang saya pakai pun, masih layak.

Sejauh ini, saya masih cukup aman-aman saja ketika berjalan kaki di wilayah Bandung. Dan belum berniat untuk jalan kaki dari Bandung – Jakarta, seperti yang dilakukan oleh teman saya, seorang musisi keren. Jangan tanya, pada akhirnya teman saya tidak bisa melanjutkan perjalanannya karena harus berurusan dengan jasa marga.

Sekali lagi jalan kaki, dimanapun saya melakukannya. Bagi saya itu adalah urusan kontemplatif. Tidak hanya ke dalam tapi juga ke luar. Bukan hanya perkara pencapaian melainkan bagaimana mencapainya. Dalam mencapai sesuatu banyak jeda, banyak kerikil, harus menyeberang jalan beberapa kali, mengatur langkah hendak stabil atau lebih cepat, mengatur nafas jangan sampai ngos-ngosan. Ada perhitungan. Dan butuh kecerdasan.

Ada satu hal yang menarik perhatian saya ketika jalan kaki yaitu zebra cross. Ia bukan hanya benda mati, letaknya punya fungsi yang tidak biasa bagi saya. Ada kemenangan tersendiri untuk seorang pejalan kaki ketika melewatinya. Ada kebanggaan yang terkadang menyembul dari hati saya, keluar begitu saja ketika menemukan zebra cross.

Zebra cross adalah perpindahan. Sekaligus tempat bertumpunya rasa bangga. Ketika melewatinya, saya selalu merasa dagu saya sedikit terangkat. Mata ke depan. Langkah kaki akan sedikit diperlambat. Mungkin di satu sisi menjadi perhatian itu kemewahan. Tetapi di sisi lain, juga membiarkan orang lain tahu bahwa sedang ada pencapaian yang terjadi walaupun pelan dan sedikit terlambat.

Suatu hari mungkin kamu akan menemukan orang gila, yang sedang berjalan kaki. Anehnya, kamu akan melihat bahwa orang gila itu pun akan terus berpindah tempat. Setiap perpindahan butuh perhitungan. Setiap perhitungan butuh kecerdasan. Maka konsekuensi logis dari kalimat ini adalah: bahkan orang gila pun punya otak dan cerdas.

Dago 349. 13 July 2011. 10:10

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...