Wednesday, July 6, 2011

Mengenal Larasati




Larasati hari itu tampak cantik. Ia hanya mengenakan atasan longgar berwarna gelap dengan rok panjang sebetis, rambutnya dibiarkan tergerai sebahu. Ia terlihat sedang duduk di kedai. Tampak dihadapannya cangkir teh panas yang masih mengepul.

Aku tergesa-gesa memasuki kedai itu. Kebaya dan konde yang sedari tadi menghiasi tubuhku pun belum sempat dilepas. Aku menghampirinya, ia lalu menyodorkan sebungkus rokok.

“Mau?”

“Tidak. Aku tidak merokok.” Kataku membalas tawarannya. Ia tampak cantik di hari itu, tampak beberapa helai kelabu menghiasi rambutnya. Tapi tentu saja itu tidak menyiratkan kecantikannya.

“Habis dari mana, kok berkebaya segala?” ia bertanya sambil menyulutkan rokoknya perlahan.

“Eh, aku habis dari nikahan teman. Kebetulan mereka pakai adat jawa. Aku hanya ingin menghormati.”

“Oh. Lalu apa yang hendak kamu ketahui, The.”

“Hm, begini.. aku baca mengenai kisahmu. Aku paham kalau kamu adalah perempuan yang pemberani. Aku hanya penasaran ingin tahu, apa yang membuatmu seberani itu?”

“Berani? Sejujurnya bukan hanya itu. Aku hanya tidak ingin melarikan diri. Banyak orang menyerah lalu mencoba melarikan diri. Ketika lari itu adalah kekalahan. Dan aku tidak mau seperti mereka.”

“Kamu hanya perempuan, kamu tak punya senjata pula. Lalu dengan apa kamu berjuang?”

“Keyakinan” jawabnya dengan mata menyala-nyala. Ia menatapku lama, menghisap rokoknya dalam-dalam lalu meneruskan “... perjuangan terkadang hanya butuh ini. Sebutlah keyakinan adalah senjata paling ampuh. Tapi kebayakan orang lupa. Mereka memilih fokus kepada sesuatu yang kelihatan ketimbang yang tidak kelihatan itu sendiri.”

Aku mengangguk perlahan. Diam-diam aku salut dengan perempuan yang ada di hadapanku ini. Secara tidak langsung ia sedang mengajarkan sesuatu kepadaku. Aku mencoba menerobos matanya yang hitam, mencari-cari adakah ketakutan itu di sana. Entahlah. Tidak kutemukan.

Dengan pelan aku bertanya “pernahkah kamu takut, Ara?”

Ia menunduk. Memainkan jari-jari di cangkir mungil yang ada dihadapannya. Menghembuskan nafas perlahan lalu menjawab “Tidak takut itu munafik. Jangan pernah biarkan dirimu dikuasai oleh kemunafikan. Lebih baik berkata jujur. Dan jika kamu ingin dengar, aku takut. Tapi  ketakutan itu sendiri hanya perasaan pada awalnya saja. Seperti permulaan, kamu akan segera melewatinya.”

Dalam hati aku merenung. Menelan perlahan setiap kalimat yang keluar dari bibirnya yang tipis. Rasanya aku sendiri perlu membaca ulang setiap kata-kata yang aku dengar di hari ini. Tidak pernah cukup untuk mengerti, merasakan, mendalami pengalaman Ara. Tidak pernah cukup untuk mengerti arti “Kemenangan dari Merah Putih” itu sendiri. Semua butuh waktu, semua patut disyukuri.

Ya, kata syukur. Aku butuh itu. Ara sendiri pun butuh itu.

“Satu lagi Ara, apa arti perjuangan bagimu?”

“Aku setuju dengan Pram dalam hal ini: Kalau mati, dengan berani; kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita. Ada keangkuhan dalam kalimat-kalimat itu. Untuk berjuang diperlukan keangkuhan. Rasa bangga yang tinggi terhadap kepemilikan sendiri. Jika itu adalah milikmu, kamu harus merebutnya. Merebutnya dengan dendam. Merebutnya dengan angkuh. Itulah berjuang. Tapi tidak hanya sebatas itu, Merah Putih bukan hanya soal bendera yang berkibar. Ia nyawa yang tumbuh yang setiap detik harus diperjuangkan.”

“Terima kasih Ara. Aku belajar banyak.”

Ia hanya membalasku dengan senyuman, senyuman paling manis dari seorang pejuang. Perempuan.


Aku keluar dari kedai itu, kebaya dan kondeku masih di kepala. Berjalan pelan di atas trotoar kecil. Toko-toko tua berjejer. Bendera merah putih menyembul dari salah satu etalase toko. Dalam hati aku bertanya, loh ini kan bukan tanggal 17 Agustus? Kenapa musti ada bendera? 

Merah Putih bukan hanya soal bendera yang berkibar. Ia nyawa yang tumbuh yang setiap detik harus diperjuangkan. Sayup-sayup kata-kata Ara terngiang-ngiang..

Mungkinkah perjuangan itu sudah selesai? Atau justru saat ini, kita sedang menghadapi musuh yang lebih hebat lagi.

Dago 349. 6 July 2011. 13:40

*semacam review. Tulisan ini tidak ada bandingannya dengan karya-karya Pram yang begitu agung.

1 comment:

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...