Monday, July 11, 2011

Batas






Ia bukan jarak. 

Ia hanya seperti kata cukup. Mengisyaratkan sesuatu hanya “sampai di sini.” Seperti keset di depan pintu, yang merupakan tanda bahwa sebentar lagi kau akan memasuki rumah. Seperti Bruno dan Hunter yang hanya boleh bermain di depan pintu, tidak di bawah kasur. Seperti Handphone yang dimatikan, ketika ingin menikmati waktu sendiri untuk membaca buku. Seperti tepi pantai dan laut lepas.

Terkadang ia seperti spasi, seperti koma, seperti tanda tanya, atau bisa jadi adalah titik. Tergantung kau akan sampai pada bagian yang mana. Mungkin saat ini kita sedang berada pada sebuah batas. Terdapat garis yang kita buat untuk diri sendiri. Ada kata “cukup” yang disodorkan ke permukaan. Batas seperti mengingatkan bahwa, ada masa kita pernah bersama. Supaya kita tidak lupa bahwa kita pernah mencinta tanpa “batas” itu.

Kini tak lagi sama. 

Kita masih saling melihat, tapi tak akan bersentuhan. Kita masih saling menginginkan, tapi tak ada lagi usaha sama seperti waktu itu. Kita masih berdiri di tempat yang sama, tapi hanya melambai dari kejauhan. Kita masih melewati tempat yang sama, tapi hanya bau parfummu yang tercium.

Ia mungkin pemisah. Yang menjalankan tanggungjawabnya sekaligus sebagai pelerai. Mengajarkan kita merenung dan mengambil waktu. Ia bukan jarak, juga bukan sebagai pelarian. Hanya sebagai satu dunia, hanya cukup, hanya sampai di sini, tidak bisa lagi, tidak sanggup lagi, tidak mampu. Beberapa bahkan akan diiringi oleh kata “Tidak.”

Ia adalah “antara” yang membuat kau dan aku akan sama-sama melihat pada hitam mata kita, lalu berucap “sekian dan terima kasih.”

Dago 349. 7 July 2011. 13:02 

1 comment:

  1. aku suka, kita tak pernah bisa melepas jarak, tapi setidaknya kita dapat membuat batas.
    salam :)

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...