Tuesday, March 15, 2011

Mari Rayakan Sex



fotoblur.com

Beberapa hari ini saya banyak membaca banyak hal yang berbau sex. Dimulai dari catatan facebook yang di-tag kepada saya. Lalu beberapa buku termasuk yang ditulis oleh seorang blogger terkenal sekaligus seorang pakar sex di sebuah majalah pria. Banyak isu menarik yang saya temukan. Dan banyak hal menarik yang kemudian membuka pemahaman saya kepada sex.

Teman saya yang saya ceritakan di awal, menulis di catatan FB-nya seperti ini—Ia selalu memiliki tujuan saat Ia menciptakan sesuatu. Termasuk organ di bawah perut sebelum paha itu. Kenapa kita menutupnya dan hanya kita buka untuk saat-saat tertentu saja? Karena namanya saja     “kemaluan.” Sudah seharusnya ia punya rasa malu. Tapi aneh memang jaman ini, kemaluan justru menjadi alat pamer luar biasa sampai ia bisa jalan-jalan kemana ia mau tanpa sehelai benang pun menutupinya. Saya rasa,“ kemaluan”  butuh sekolah supaya ia mengerti dan tahu apa artinya malu.

Saya mengomentari catatan teman saya dengan ini—Jujur saja aku tidak setuju ketika dikatakan "kemaluan." Nama mereka adalah vagina dan penis. Pada waktunya vagina dan penis akan bekerja dengan cara mereka yang luar biasa, untuk satu tujuan yang jelas: kepuasan seksual lalu keturunan. Aku merasa, bahasa akhirnya mengkonstruksi pikiran masyarakat bahwa "kemaluan" adalah sesuatu yang akan membuat kita "malu." Padahal itu bukan tujuan pencipta, bukan alat reproduksi-nya yang membuat malu, tetapi sikap kita sendiri terhadap alat reproduksi itu. Kalau memang dipakai semestinya, vagina dan penis malah memenuhi destini mereka.

Saya tidak akan menyinggung soal asal usul kenapa sampai kata “kemaluan” yang dipakai. Atau saya juga bukan pakar yang kemudian harus cerdas menjelaskan sex secara ilmiah. Saya hanya pelaku: saya menggunakan organ seksual saya secara semestinya. Dan saya pengamat: saya bergaul dengan banyak orang yang juga menggunakan organ seksual-nya teratur (baca: aktif secara seksual). Di dalam percakapan sehari-hari saya dengan teman-teman. Saya tidak pernah merasa risih untuk membicarakan soal sex, walaupun itu hanya jokes bodoh semata. Atau membicarakan sesuatu yang lebih dalam. Tapi saya merasa sudah seharusnya yang perempuan ini harus keluar dan bicara soal sex. Bukan hanya diam-diam, pura-pura risih, malu-malu. Lalu berakhir bodoh alias tidak tahu.

Saya mau cerita sedikit, beberapa waktu yang lalu, saya pernah berkencan dengan seorang pria. Ia cerdas, saya suka dengannya. Kami menghabiskan banyak waktu mengobrol bersama dan duduk-duduk sampai subuh. Pergi keluar dengan seseorang yang membuatmu suka bahkan jatuh cinta adalah perasaan yang menyenangkan. Biasanya setelah mengobrol panjang tersebut kami pulang. Pada suatu malam, ketika dia mengantarkan saya pulang, tiba-tiba dia menawarkan untuk pulang ke kosnya atau kita ke hotel. Tentu saja itu adalah ajakan secara halus untuk tidur dengannya.

Malam itu saya menolak.

Ajakan tidur sangat menggiurkan. Saya bukan perempuan yang munafik, melakukan hubungan sex dengan orang yang kamu suka pastinya adalah tawaran yang menarik. Adalah hal yang menyenangkan. Tapi saya menolaknya. Pada keesokan harinya di kecan kami selanjutnya, dan keeseokannya lagi, dia masih saja mengajak saya.

Tapi, saya tetap menolak.

Kenapa? karena saya berpikir, belum waktunya. Klise? iya! Saya ingin, tapi saya menunda untuk tidak melakukannya. Hasrat saya jelas sampai di ubun-ubun. Siapa bilang saya tidak tergoda, saya begitu suka dengannya.

Tapi menunda rasa lapar untuk menikmati pesta dengan makan besar, akan membuatmu makan lebih lahap dan perutmu lebih kenyang ketimbang sebelum pesta, kamu makan terlalu banyak. Itu akan membuatmu kekenyangan ketika pesta, lalu ketika dipaksakan makan, kamu akan muntah.

Saya selalu membayangkan sex sebagai perayaan. Ada kenikmatan sejati ketika mabuk. Saya hanya kepingin mabuk dengan orang yang tepat. Saya hanya ingin melakukannya dengan orang yang juga ingin mabuk dengan saya.

Menunda bertemunya penis dan vagina, bukan semata karena sok-sokan, sok suci, sok jual mahal, whatever.

Tidak.

Tundalah sex. Sebelum kamu yakin, melakukannya dengan orang yang tepat di waktu yang tepat. Lalu, kalau kamu sudah menemukan orang yang tepat itu, mabuklah, nikmatilah, jangan lupa ceritakan kepada saya ;)

LOVE,
The.











9 comments:

  1. aku setuju banget. suka dengan cara berfikir kamu. baru kali ini ada yg sejalan sma fikiranku...u r great writer beib^^

    ReplyDelete
  2. Nice one Theo...
    Selalu suka dengan caramu bercerita.
    Perumpamaan makan sebelum pesta pas bgt!
    Pelukk... ^^

    ReplyDelete
  3. Gue suka yang ini, The. Prinsipil secara proporsional.

    Jadi being a virgin before the right time bukan sekedar masalah moral, tapi ada konsep yang lebih berharga di baliknya =)

    ReplyDelete
  4. keren ..
    pasti nanti saya akan cerita perayaan sex saya dengan seseorang yang tepat (pastinya)
    :)

    ReplyDelete
  5. nice post, kak..
    barusan baca buku "Sex and Dating"-nya Mindy Miller, dan ilustrasi yang dia gunakan untuk menggambarkan "Tunggu dan bersabar sampai waktunya tepat" mirip sama ilustrasi kakak ;)

    ReplyDelete
  6. LOVE THIS POST SO MUCH :)

    menjaga sebuah kesucian bukan hanya sekedar tentang bertemunya penis dan vagina, tapi ada prinsip dan tanggung jawab dibalik semua itu, dan proses yang tidak ternilai tentu saja...
    mari rayakan dengan orang yang benar benar tepat, agar semua terasa lebih istimewa :")

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...