Sunday, March 13, 2011

Gadis Kecil Umur Tujuh

Saya adalah gadis kecil umur tujuh. Umur dimana saya suka ditinggal sendiri, karena satu dan lain hal. Hal yang paling saya benci adalah ketika tidur siang, lalu bangun ketika hampir maghrib dan di lampu di sekitar rumah belum dinyalakan dan di sebelah saya tidak ada orang.

Saya suka cengeng—menangis keras-keras tanpa malu. Biasanya permasalahannya sepele; tidak suka ditinggal. Mungkin di tubuh saya terlalu banyak air mata. Pohon-pohon air mata itu tumbuh setiap hari semakin besar, menancapkan akarnya yang kuat pada usus-usus.

Jelas sekali pohon air mata selalu berbuah air mata. Saya takut, kalau pohon air mata itu tambah besar setiap harinya dan buah air matanya tambah banyak. Saya akan tenggelam. Karena saya tidak bisa berenang.

Oh. Itulah mengapa saya ini gadis cengeng. Kalau begini saya butuh permen warna-warni, coklat, dan sedikit pelukan hangat. Saya butuh Papa. Tempat mengaduh. Biasanya ia akan mendengarkan dan menghibur. Tapi sekarang Papa Mail box, mungkin sedang di luar kota.

Atau mungkin seharusnya saya bersahabat dengan pohon air mata itu. Bergelayutan riang di cabang-cabangnya. Sesekali bermain petak umpet di antara rantingnya. Lalu memakan buahnya ketika saya haus.

Kalau sudah begitu kan, saya tidak perlu lagi tembok. Bantal. Saya akan membuang mereka jauh-jauh. Saya bertanya: apakah di dalam tubuh gadis kecil lain ada pohon air mata? atau mereka sengaja memangkas pohon air mata mereka. Oleh sebab itu mata mereka kering.

Kalau begitu, pohon air mata akan gantian menangis. Kasihan juga. Jadi biarkan saja, saya tidak mau memangkasnya. Biarkan ia tumbuh dengan lebatnya di dalam perut saya. Kelak, saya akan dikenal sebagai gadis kecil dengan pohon air mata. Pipi saya juga ikut berair. Ada lumut di sekitar tubuh saya, karena lembab—kalau orang-orang kekeringan, saya akan membaginya kepada mereka—air mata membuatmu berhenti bertumbuh. Walau kini kau semampai, dengan payudara sedang, dan pantat yang sedikit berisi.

Gadis kecil cengeng dengan pohon air mata di tubuhnya mengikuti kemanapun kau pergi.

1 comment:

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...