Thursday, March 17, 2011

Menunggu Gerimis

Mendung yang menyengat dan bau aspal menusuk ke hidung. Sepanjang perjalanan ini aku belum menemukan gerimis. Padahal sudah saatnya gerimis pulang. Berisitirahat di dalam tanah, menyusup ke sari-sari pupuk yang tersisa, bermain petak umpet dengan cacing. Atau hanya sekedar nangkring di genteng bercerita dengan dedaunan. Atau hanya melamun di atas jendela.

Ketika gerimis pulang. Langit pun siap kehilangan. Ada sesuatu yang akhirnya dilepaskan. Mungkin itu berupa air mata. Kekesalan, kerinduan, kemarahan—kasih sayang. Segala rasa seperti bercampur aduk. Ingin berhamburan keluar. Apakah ada kesiapan, saya sendiri tidak dapat menjawabnya.

Semesta itu begitu sopan. Tapi dalam beberapa hal terlalu spontan. Mungkin saya memang harus bersiap dengan segala keterkejutan yang ada. Perasaan yang berubah-ubah. Sedikit labil. Kegalauan datang. Lalu saya pikir itu natural. Kita tidak pernah bisa berakting tentang kehidupan. Penerimaan akan membuat kita lega. Penolakan justru akan membawa kepada satu beban yang baru.

Saya masih mencium bau aspal. Lalu masih juga belum menemukan gerimis. Mungkin saja gerimis nyangkut di balik awan-awan gempal. Karena belum sisiran—malu. Atau hari ini gerimis ketiduran sampai lupa kalau memang kita ada janji.

Sepatu flat lusuh saya berdetak di atas jalan. Setelan tank top oranye yang saya pakai, harusnya hari ini membuat saya bergairah. Entahlah saya ingin menulis apa ini—mungkin kegelisahan.







1 comment:

  1. wah,bagus bgt postingannya.salam kenal ya.kalau ada waktu kunjungi blog ane ya.

    ReplyDelete

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...