Wednesday, March 23, 2011

Untuk Mama.

weheartit



Mama ulang tahun yang ke-63. Itu sudah dua hari yang lalu. Tadi ketika saya pergi ke kamar mandi, saya merasa harus menulis tentangnya. Perempuan yang jarang ada di tulisan-tulisan saya. Bukan karena saya tak cinta. Hanya saja kami memiliki bentuk kedekatan yang berbeda. Bagi Mama, saya adalah anak bungsunya. Dimana-mana predikat anak bungsu adalah anak yang lebih baik tinggal bersama orang tua. Bukannya merantau keluar. Tetapi yang terjadi adalah saya anak yang merantau dan susah diajak pulang (kembali) karena saya merasa saya sudah punya kehidupan di sini.

Mama tetaplah Mama. Kami sama-sama keras kepala dan jatuh cinta terhadap pria yang sama, Papa. Beruntung sekali, Mama dicintai penuh-penuh oleh Papa. Tentu saja, saya juga iya, dengan porsi yang berbeda. Kami suka sekali berbeda pendapat. Saya suka tidak sabar menghadapi Mama. Begitupun sebaliknya Mama mungkin juga mengganggap saya, anak yang tidak bisa dibilangi. Tidak mau dengar orang tua.

Tapi saya sayang Mama. Seperti Mama sayang saya. Ingatan saya tentang Mama begitu lekat. Saya tidak akan pernah lupa. Saya masih ingat, saya suka tidur di bawah lengannya dan meletakkan tangan saya di atas perutnya. Bau tubuhnya yang khas, saya suka. Umur sekitar sepuluh tahun, saya suka sekali menangis berjam-jam kalau mau ditinggal Mama dan Papa tugas keluar kota. Kalau Mama pulang dengan kapal, saya suka sekali berlari kencang-kencang ke arah ujung rumah, tempat dimana saya bisa melihat kapal itu di laut. Saya adalah anak perempuan yang memalsukan tanda-tangan Mama di kelas tiga, karena saya takut Mama marah, nilai saya banyak yang merah. Saya dibelikan beha pertama kali olehnya. Saya suka mencabuti ubannya. Saya dibikinkan baju sendiri, supaya baju saya tidak sama dengan anak-anak yang lain.

Saya sayang Mama. Dengan cara yang berbeda. Banyak hal yang tidak dapat saya ceritakan di sini—beberapa hari yang lalu, saya menceritakan sesuatu yang sangat “intim” dengannya. Lalu saya lega, karena saya tahu rahasia saya berada di hati yang tepat. Satu hal yang membuat saya yakin kalau Mama betul-betul sayang sama saya adalah ketika suatu hari dia mengirimkan saya pesan di hape: Bale di Ambon sudah. Dilanjutkan dengan kalimat-kalimat seperti ini: Kami selalu mendoakanmu setiap pagi.

Mama, terpujilah hatimu yang begitu tulus.










1 comment:

  1. Kenapa gue selalu ngerasa doa itu romantis, ya, The ? Mendoakanmu setiap pagi ? How sweet ... =)

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...