Wednesday, September 13, 2017

Sebuah Alasan



Saya tak pernah punya jawaban yang tepat ketika ditanya, apa yang membuat saya jatuh cinta kepada dia, yang sering kau dengar saya panggil kasih, dia yang saya sebut jiwa. Saya ingat bertahun-tahun yang lalu ketika belum kenal, kami pernah berada di panggung yang sama untuk membaca puisi. Saya mendapat giliran pertama membaca puisi, sebelum saya memulai membaca puisi, saya katakan kepada penonton begini: "saya tak suka menulis puisi panjang-panjang, karena itu bagi saya membosankan. Bagi saya puisi itu mesti pendek seperti rok mini." Sementara dia yang berada di belakang panggung pada saat itu melirik dua lembar kertas berisi puisi di tangannya, mengerutkan alis, bercampur sedikit senewen di dalam hatinya, "siapa sih perempuan ini? kok berani benar berkata begitu." Di malam itu pun kami tak mengobrol, bahkan tak saling tahu satu dengan yang lain.

Ketika bertahun-tahun kemudian, saya dan dia bertemu lagi dan untuk pertama kalinya, kami akhirnya mengobrol, yang saya perhatikan adalah sepatunya. Dia memakai sepatu kulit coklat sederhana yang entah mengapa—membuat saya begitu berselera—dengan sepatunya, hingga terlontar komentar pujian dari saya begitu saja yang berlanjut dengan mengobrol dan mengobrol hampir sepanjang malam. Dia memiliki selera yang sangat berbeda. Jika itu adalah bacaan, ia tidak membaca buku puisi, saya membeli dan membaca buku puisi. Jika itu adalah makanan, jika sudah senang dengan satu jenis makanan, maka ia akan makan itu terus menerus, sementara saya cenderung senang mencoba makanan-makanan baru. Selera menonton kami pun berbeda, dia senang menonton dokumenter yang historis dan filosofis, saya senang dengan film-film dengan alur cerita melelahkan. Dia yang taktis dan strategis. Saya yang acak cenderung melompat awut-awutan. Dia yang pendiam dan tak banyak bicara jika ada di kerumunan. Saya yang senang kerumunan dan senang bertemu orang baru.

Salah seorang teman pernah bertemu kami dan ia katakan, "saya tahu Theo, kenapa kamu jatuh cinta sama Weslly." Saya tanya, "apa itu?" dan teman itu menjawab, "karena ia merawat kamu." Kami tertawa malam itu. Tapi terus terang, saya senang dengan kata: merawat. Saya belum menemukan jawaban yang tepat, kenapa saya jatuh cinta dengannya, tapi saya cukup senang dengan kata merawat. Saya pikir kadang kekasih kita menjelma menjadi seorang ibu yang pandai merawat. Tak hanya itu—Ibu juga gemar membuatkan kopi di waktu pagi dan mengajak menonton video kuliah David Harvey tentang kapitalisme.

Gerbong Kereta dari Solo menuju Bandung, 11 September 2017. 



No comments:

Post a Comment

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...