Sunday, September 10, 2017

#SayaMembaca : Love in the Kingdom of Oil, Nawal El-Saadawi






Love in the Kingdom of Oil oleh Nawal El-Saadawi. Adalah karya pertama yang saya baca darinya. Novel ini tentang seorang perempuan yang pergi cuti dan tidak kembali. Nawal menuliskan novel ini dengan gaya sureal dan sangat puitis. Itulah mengapa saya bertahan membaca novel ini hingga selesai. 

Tokoh utama perempuan di dalam novel ini diceritakan memberontak dengan caranya sendiri, ia memilih pekerjaan sebagai seorang arkeologi yang berjalan dengan membawa pahat di dalam tas selempang yang ia sampirkan di bahunya. Perempuan ini kemudian meminta 'cuti' untuk pergi mengunjungi satu kampung ke kampung yang lainnya untuk menggali tanah, dengan harapan ia akan menemukan dewi-dewi yang muncul dari dalam tanah.

Di tengah perjalanannya, ia menemukan banyak sekali pertanyaan tentang apa yang ia lakukan, baik dari perempuan lainnya maupun dari (kebanyakan) laki-laki. Karena sekali lagi, mereka menganggap yang sedang dilakukan oleh perempuan ini adalah sesuatu yang tabu; sebuah pemberontakan.

Saya senang dengan gaya menulis Nawal El-Saadawi di dalam novel ini. Barangkali karena saya memang senang dengan gaya sureal dan isu perempuan yang dituangkan sama sekali tidak dengan lembut oleh Nawal di dalam novel ini. Pun, yang menarik adalah ia menggambarkan tentang cinta seperti ini: perempuan itu mengulurkan tangannya dan menangkap tangan lelaki itu. Jari-jari mereka berjalinan. Lelaki itu mendekapnya dengan sebelah tangan, dan peremuan itu mendekap lelaki itu dengan kedua tangannya. Ia memejamkan mata dan lelaki itu juga memejamkan mata. Mereka terus bergerak sambil berpelukan, tak melihat tanah yang mereka injak. Mereka terbenam bersama-sama ke lubuk danau itu seolah-olah mereka sedang terperosok ke dalam cengkeraman sebuah kekuatan yang lebih besar, dan mereka tidak berdaya membebaskan diri dari kekuatan itu. 

Tak hanya menggugat posisi perempuan dalam tatanan patriarkal yang represif, Nawal El-Saadawi juga menggambarkan tentang kekuatan berpikir perempuan yang progresif yang dapat digunakan sebagai modal seorang perempuan untuk memberontak.

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...