Thursday, November 14, 2013

Sebuah Pengalaman Relijius Bahwa Kita Tidak Lupa Untuk Selalu Bersyukur






“Yang saya naksir dari kamu adalah you are what you are.”

Ini adalah sebuah pesan yang saya dapat dari seorang sahabat. Ia perempuan. Kami bersahabat sejak SMA, dan kini kami masih berteman baik, bertukar cerita dan berbagi kabar.

Jika kata sahabat saya yang lain “Kamu itu kalau lagi marah, mukanya langsung kelihatan. Pun kalau lagi sedih. Apalagi jatuh cinta! Kamu itu terlalu ekspresif.”

Saya begitu. Saya rasakan segala sesuatu yang ada di dalam. Saya tidak bisa membohongi diri saya sendiri. Saya tidak bisa membohongi perasaan saya. Bahkan ekspresi muka saya akan menujukkan seperti apa saya.

You are what you are, yang sahabat saya maksud di sana bukan hanya sekedar ungkapan be yourself yang seringkali kita dengar. Tetapi lebih kepada bagaimana kita jujur. Bagaimana kita merayakan diri kita secara natural. Secara otomotis menerima diri kita apa adanya. Tidak perlu bersusah payah untuk menjadi seperti orang lain.

Saya dulunya tidak menyukai rambut keriting saya. Saya meluruskannya sampai beberapa kali. Tetapi saya berubah ketika saya melihat diri saya berbeda, bahwa rambut keriting yang saya miliki, adalah identitas.

Saya dulunya tidak menyukai bagian dada saya yang rata, tetapi akhirnya saya bersyukur banyak bahwa dengan ukuran dada yang tidak terlalu besar. Saya bisa bergaya dengan beha yang warna warni dan lebih gaya. Dan harganya jauh lebih murah, tentunya.

Saya dulunya tidak menyukai ini itu blah blah blah.

STOP.

Kalimat di atas seharusnya diganti dengan: saya menyukai semua tentang diri saya. Bahwa ungkapan kita menyukai diri kita adalah sebuah pengalaman relijius, bahwa kita tidak lupa untuk selalu bersyukur.


1 comment:

  1. hei dear, ternyata kita sama, berambut keriting dan berdada rata. hahaha..
    Dulu saya juga sempat meluruskan rambut ini karena tidak sukanya tapi saya sekarang bersyukur, tidak banyak orang yang berambut keriting di tempat daerah saya, jadi saya merasa unik. Saya juga bersyukur punya dada rata karena laki-laki tidak akan melihat saya dari dada

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...