Tuesday, December 10, 2013

(Part 3) Passion



Dan ini adalah cerita tentang passion selanjutnya. Yang tidak random. Kamu seperti digariskan untuk melakukannya. Hanya ada satu nama Theoresia Rumthe. Dan hanya ia yang bisa melakukannya. Kata lain dari passion adalah panggilan. Untuk itulah saya ada di muka bumi ini. Untuk itulah saya di-design.

Seperti yang sudah-sudah bahwa tidak ada yang kebetulan. Begitupun hubunganmu dengan apa yang kamu sebut dengan “passion” atau “panggilan” atau sebutlah “kegairahan” itu sebagai sesuatu yang selalu membuatmu deg-degan untuk melakukannya.

Kemudian pada suatu masa, saya menemukannya di dalam menulis. Ada “kegairahan” itu. Ketika melakukannya, rasanya persis seperti ketika kamu hendak mencuri-curi ciuman untuk pertama kalinya. Ada perasaan gugup di awal kemudian diakhiri dengan rasa hangat. Yang membuatmu kepengin lagi. Ada adiksi.

Menulis kemudian menjadi adiksi. Ada hasrat yang tidak bisa saya tahan. Selalu ingin keluar. Akhirnya ketika tidak menulis saya merasa kehidupan saya hampa. Menulis itu memisahkan saya dengan panggung dan keriuhan. Sebaliknya ketika menulis yang saya inginkan hanya kondisi yang senyap dan sendiri. Saya tidak suka keramaian ketika sedang menulis. Karena pada saat itulah saya gunakan untuk mendengarkan apa yang ada di dalam.

Passion menulis saya kemudian mempertemukan saya dengan banyak orang yang tidak pernah bayangkan sebelumnya. Akhirnya merekalah yang membawa saya menggapai semua mimpi-mimpi saya.


Sampai di sini akhirnya saya belajar bahwa: mungkin yang kamu miliki bukanlah uang yang banyak, tetapi kamu kenal dengan baik apa yang menjadi “panggilanmu” dan kamu lakukan itu secara konsisten. Maka itulah passion. Itulah kegairahan. Kegairahan yang akan menuntunmu kepada sebuah kata “berhasil” jika kamu mempercayainya. 

2 comments:

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...