Wednesday, December 12, 2012

Semacam Ulasan Film: Life of Pi






Lama sekali tidak ke Bioskop. Oh, jangan ketawain saya. Film terakhir yang saya tonton di bioskop adalah The Amazing of Spider Man. Yap, si sexy Peter Parker. Entah mengapa saya memang bukan tipe yang rajin pergi ke bioskop.

Kalau berbicara soal menonton, saya lebih suka pergi ke Kineruku dan menonton film-film yang diputar di sana. Dan akhirnya menjawab kegelisahan diri saya sendiri untuk pergi menonton Life of Pi.

Maka Senin malam saya pergi menontonnya bersama seorang teman. Saya tidak akan memberikan spoiler kepadamu tentang film Life of Pi. Saya hanya ingin menceritakan kepadamu. Bagaimana film Life of Pi merefleksikan sesuatu kepada saya.

Dua tokoh utama dalam film itu adalah Richard Parker (seekor macan Bengali) dan Pi. Terapung-apung di laut selama berpuluh-puluh hari. Di film itu digambarkan bagaimana Pi bersusah payah untuk menaklukan ketakutannya sendiri atas Richard Parker. Lalu bagaimana mereka berdua bertahan melewati hari-hari yang sangat sulit di lautan. Hanya berdua saja. Dengan semesta.

Di awal film ini Pi mengatakan kepada penulis yang hendak mengisahkan ceritanya ke dalam buku bahwa: ceritanya adalah perjalanan untuk menemukan Tuhan.

Dan coba tebak, apakah memang Tuhan bisa ditemukan dalam ceritanya.

Oh, ada sesuatu yang direfleksikan kepada saya seusai menonton film itu. Sepanjang angkot ketika saya pulang. Saya terus menerus dihantui oleh sebuah statement yang diucapkan oleh Pi,

All of life is an act of letting go but what hurts the most is not taking a moment to say goodbye.

... What hurts the most is not taking a moment to say goodbye.



Pernyataan ini begitu menghantui saya.

Saya melihat hubungan Richard Parker dan Pi dalam film ini seperti hubungan laki-laki dan perempuan. Terserah yang mana yang menjadi laki-laki dan yang mana yang menjadi perempuan. Tetapi ini terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita memilih atau (tidak sengaja) dipilih untuk bersama seseorang. Setuju atau tidak setuju. Punya intensitas yang cukup tinggi dengan orang tersebut. Suka maupun tidak suka. Tetapi bersama.

Di dalam kebersamaan banyak hal yang terjadi. Ada perasaan utuh ketika kita bersama seseorang. Dan ada yang diambil ketika kita (tidak sengaja) berpisah atau dipisahkan dari orang tersebut. Dan ini pun yang kemudian dialami oleh Pi, ketika Richard Parker pergi dari dia tanpa sedikitpun menengok ke belakang bahkan hanya untuk mengucapkan selamat tinggal.

Ah, Pi patah hati.

Sampai di sini saya berpikir bahwa, persoalannya bukan ketika ditinggalkan atau meninggalkan. Persoalannya adalah ketika hendak meninggalkan paling tidak kita dengan berani menatap mata pasangan kita dan bilang "selamat tinggal."

Karena yang paling sakit adalah ketika kita tidak berani bilang selamat tinggal.

Saya begitu masuk ke dalam perasaan Pi sehingga saya tidak memikirkan perasaan Richard Parker. Oh Richard Parker ternyata punya cara lain untuk bilang “selamat tinggal” ia berjalan ke arah hutan dengan tubuhnya yang kurus, berhenti sejenak di ujung rumput sebelum masuk ke hutan ... diam, baru kemudian berlari ke dalam hutan.

Ia memang tidak menengok ke arah Pi. Ia hanya diam. Dan itu adalah caranya mengucapkan “selamat tinggal.”

Oh yang ini lain pembahasan, tapi saya mau bilang bahwa saya menemukan Tuhan dalam film ini.

Tuhan menjelma menjadi seekor macan. Richard Parker namanya. DIA tidak membiarkan Pi sendirian di tengah lautan lepas itu. DIA tidak melihat Pi dari jauh. DIA melihat Pi dari dekat. Bahkan sangat dekat.

Doubt is useful, it keeps faith a living thing. Afterall, you cannot know the strength of your faith until it is tested.

Kadang kita seperti ragu, dan merasa ditinggalkan. Tuhan seperti mengucapkan "selamat tinggal" Padahal kita tidak pernah tahu, Tuhan bisa begitu dekat. Sangat dekat. 

3 comments:

  1. dan saya benar-benar merinding membaca tulisan ini...

    ReplyDelete
  2. Kak, kenapa kakak bisa memberikan pemaknaan lebih untuk film ini. Pemaknaan saya: bagaimana Pi bisa keluar dari zona nyaman (Pulau Terapung) untuk mencapai kenyamanan yang lebih nyaman (Keselamatannya).
    Tuhan Maha Adil, ya Kak Oranye?

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...