Thursday, October 14, 2010

Day #28: Seperti pindahan

Akhirnya ini adalah hari ke enam saya tinggal di kos baru saya. Dan ada satu hal yang saya ingin sampaikan, saya tidak jadi kos di daerah Trunojoyo. Ya, jangan kaget ya, ternyata ada beberapa hal yang tidak dapat saya kompromikan dengan jadwal pekerjaan saya. Apalagi setelah mendapat jadwal siaran malam di radio yang baru. Betul sekali, kendalanya adalah jam pulang malam. Akhirnya saya pindah lagi, Tante Simon terima kasih untuk kebaikannya. Nanti saya pasti main-main lagi ke sana.

Singkat cerita, saat ini sudah enam hari saya tinggal di kos baru saya, yang notabene masih di Dago juga. Kalau menurut beberapa teman, mereka mengatakan bahwa, saya memang sudah terlalu jatuh cinta dengan daerah Dago. Jarak antara kos saya yang lama dengan kos yang baru, tidak terlalu jauh. Masih bisa ditempuh dengan jalan kaki. Dan saya suka kos baru saya.

Ini adalah rumah keluarga, dengan halaman yang sangat luas. Kamar yang saya tempati adalah kamar yang menempel dengan rumah utama, tetapi memiliki akses keluar masuk sendiri. Dengan jendela lebar, dan pemandangan ke halaman langsung. Itulah kenapa saya tergila-gila dengan tempat ini. Tidak lupa seperti yang saya inginkan: ada teras mungil dan halaman.

Pindah kos, itu adalah hal yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Ada dua hal yang bertolakbelakang namun berhimpit. Mereka menciptakan adrenalin tersendiri. Proses pertama yang saya pelajari adalah membongkar barang, kemudian memasukannya ke dalam kardus. Ada hal yang saya pelajari ketika membongkar. Untuk membangun sesuatu, relakanlah dirimu untuk di bongkar. Kalau tidak ada yang membongkar, bongkarlah dirimu sendiri.

Membongkar itu seperti mengacak kembali pakem yang telah ada, dan bersiap dengan pakem baru. Membongkar itu berarti rela rusak. Untuk membongkar dibutuhkan keberanian. Biasanya situasi yang menuntut sesorang untuk mulai “membongkar” sesuatu di dalam hidupnya.

Proses kedua adalah menatanya di dalam kardus. Tidak sembarangan menata, hal ini membutuhkan tingkat organisir yang cukup tinggi. Buku tidak bisa diletakkan dalam jumlah yang banyak di dalam satu kardus, harus dicampur dengan barang lain yang lebih ringan, supaya ketika mengangkatnya tidak terlalu berat.

Begitupun dengan barang pecah belah tidak dapat diletakkan begitu saja, paling tidak ia harus dibungkus terlebih dahulu atau diletakkan dengan barang lain yang lebih empuk. Menata di dalam kardus pun membutuhkan tingkat keapikan yang tinggi.

Proses terakhir adalah membongkar kardus sebelumnya kemudian menatanya kembali di tempat yang baru. Ini adalah hal yang biasanya paling malas saya lakukan. Terkadang saya lebih suka melihat barang-barang tersebut di dalam kardus saja, dan terlalu keberatan untuk menata mereka kembali di tempat yang baru.

Bagaimana kalau hatimu yang dibongkar? seperti pindahan, kau butuh untuk membongkar, mengepak hatimu dan pindah. Kau butuh untuk membongkar hatimu yang sebelumnya, menatanya ke dalam kardus, dan kalaupun kau mendapatkan tempat baru, kau akan menata hatimu kembali di sana.

Tetapi bagaimana juga kalau saat ini, hatimu sedang ada di dalam kardus. Ia tersimpan dengan rapih, sedikit berdebu, bercampur dengan barang-barang lainnya.Dan ketika kau telah sampai di tempat yang baru, kau sedikit malas untuk mengeluarkannya apalagi menatanya. 


 

 pic by me

Kalau menurut saya, sesekali biarkan hatimu di sana. Di dalam kardus, berdebu dan tergeletak di ruangan gelap, karena justru di dalam kegelapan itu ia belajar untuk melihat.

Doakan saya betah di kos yang baru. Ada yang butuh kardus untuk menyimpan hati? saya punya banyak.

 ini pemandangan dari depan rumah orang tua saya di Ambon: ada teras, halaman luas, dan laut. tentu saja laut tidak dapat saya temui di sini.

4 comments:

  1. waah nampaknya tempat barunya asiik jd pnasaran melompat ke situ ... ai ai ai tp klo ada anjing bs di hush2 dulu kah hihihi

    Btw theo laut itu menempel padamu
    kemanapun pergi meski tak nampak laut awan biru dan warna menempel erat
    Tak akanjauh kemana (^_^)

    ReplyDelete
  2. hehehe...
    Theo,kontrakannya belom nemu. Sedang daku masih di tempat yg lama n dirimu sdh melancong.
    Sptnya daku butuh kardus! boleh minta?

    nice..
    selalu suka dgn tlsanmu!

    ReplyDelete
  3. Ga kaget Kak theo suka dengan jendela besar, halaman, dan teras.
    ternyata rmahnya di pulau sana semacam itu.. :)
    Salam kenal kak Theo, dari sesama penyuka jendela besar, hujan, dan kebun hijau. :D

    ReplyDelete
  4. ....rumah dengan pintu dan jendela besar, terbuka lebar. bagus untuk sirkulasi udara, tetapi... (kamu tahu lanjutannya, bukan?)

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...