Friday, September 10, 2010

pensil

pensil yang tajam harus melepaskan banyak. ia harus merelakan kulitnya pergi ketika ia diraut. ia harus rela, ketika tubuhnya semakin pendek dari hari ke hari, supaya bertambah tajam. ia harus rela digantikan oleh pensil yang lain, ketika tubuhnya tak layak lagi untuk dipakai.

pensil dan guratannya itu saya. saya suka mendengarkan pensil dan kertas saling bersentuhan. saya suka mendengarkan bunyi KRES KRES. mereka itu seperti nada diam. melantun dalam kesepian.

saya punya sebuah cerita kesukaan tentang pensil, cerita ini ada di buku Totto-Chan, salah satu buku kesukaan saya. kalau tidak salah di halaman ke-30 atau ke-31, saya lupa tepatnya.

ada kalimat yang kurang lebih berbunyi begini: “Tai-Chan, aku akan tetap meraut pensilmu karena aku sayang padamu.” setelah membaca kalimat ini pertama kali, kalimat ini begitu terngiang-ngiang di kepala saya. bahkan bagian ini adalah, bagian yang selalu saya baca berulang-ulang, ketika saya membaca buku Totto-Chan kembali.

bisa saja mencintai itu sama seperti meraut pensil. seberapa banyaknya kau berani untuk meraut hatimu; melepaskan kulitnya, rela menjadi pendek, supaya kau lebih tajam untuk mencintai pasanganmu.

walau ada pertanyaan ini,


tidak ada jawaban.

lalu kau harus rela untuk digantikan dengan pensil yang lain. kalau memang hal ini terjadi, apa kau masih punya hati yang besar untuk bilang,

Tai-Chan, aku akan tetap meraut pensilmu karena aku sayang padamu.

1 comment:

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...