Thursday, September 16, 2010

Day #1: namanya, Hujan.

Hujan, putriku yang cantik dengan betis mulusnya, berjalan di depanku. Ia tampak buru-buru, hanya mengenakan daster sekenanya dengan rambut acak-acakan. Berjalan mondar-mandir di antara gang sempit, tempat kita biasanya mengantri untuk sikat gigi.

Ia tampak baru bangun tidur. Entah apa yang aku dengar tadi malam, ada suara ribut-ribut dari kamar sebelah. Seperti suara bertengkar, ada lengkingan meninggi, dan kemudian diikuti dengan sesegukan panjang. Aku sendiri tidak mau ikut campur urusan anakku ini, toh dia sudah dewasa.

Terakhir yang aku tahu, hujan memang sedang menjalin hubungan dengan seorang pria, yang sering datang menghampirinya ke rumah. Mereka biasanya duduk-duduk di teras belakang sambil mengopi dan menghabiskan sisa sore.

Aku sering curi-curi pandang, melihat apa yang hujan lakukan dengan pacarnya itu. Terus terang, ini memang bukan urusan aku. Tapi aku agak kuatir, ini pertama kali hujan pacaran, aku takut ia...

Di kejauhan, mereka saling mencium, mereka mengecup lama. Tangan pacar hujan yang entah-siapa-itu tampak menggerayangi bagian depan baju hujan. Ah, ini pemandangan yang sungguh tidak pantas. Dan seharusnya aku tidak di sini.

Setelah itu, mereka biasanya masuk menuju kamar  putriku. Sekitar15 menit sampai dengan 30 menit kemudian, mereka keluar. Wajah hujan begitu sumringah, mereka keluar dengan tawa-tawa kecil yang ditahan.

Aku hanya merekam kejadian itu dari kejauhan, ah hujan, kalau saja kau tahu...

Pagi ini, aku hanya dapat memandangi wajahnya yang tampak lunglai, seperti sehabis menangis semalam, tapi aku juga tidak berani menegurnya. Ia berdiri di depan wastafel lama, memandang wajahnya di depan kaca. Memindahkan odol ke sikat giginya, mulai menyikat giginya pelan-pelan sambil sesekali menyeka air mata yang berlinang di pipinya.

Ada apakah gerangan hujan? aku bertanya di dalam hati.

Aku masih duduk di meja kopi, yang menghadap ke teras belakang. Tampak hujan saat ini, berjalan mendekatiku. Lebih dekat lagi sehingga, aku bisa melihat matanya yang bengkak dengan jelas.

“Pa, hujan hamil.”

Lambat-lambat ia berkata kepada bingkai potret tua di depannya, sebelum tangisnya pecah kemudian. Aku hendak marah, tapi kemarahanku sendiri seperti tertahan di ujung lidahku sendiri. Aku seperti tidak berdaya. 



semoga bunga kamboja di sekitar nisanku, tidak layu menunggu sampai sembilan bulan.

pintaku dalam hati.

6 comments:

  1. wwooww. gudjobbb! apalagi nama anaknya..hujan. :D

    ReplyDelete
  2. Horeee ... keren, The. Lu nyoba sudut pandang baru. Karakter Si Ayahnya kuat banget =D

    Keren, The, good start ...=)

    Ayo nulis sampe 30 hari ke depan, tetep semangat, ya, Dear... steps to your birthday ...;)

    ReplyDelete
  3. Love it!
    some sketches appear while i was reading your words...hhmmm...so lively!
    wait for Day #2, Theo.. <3

    ReplyDelete
  4. awal yang bagus! semoga tidak terpotong oleh kesibukan apapun.

    ReplyDelete
  5. nice...
    kerenn abies!
    sudut pandangnya ok bgt The! ^^

    ReplyDelete
  6. wah keren banget nih. mau belajar bikin tulisan kayak gini. gimana caranya ya?

    ReplyDelete

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...