Monday, September 20, 2010

Day #5: Backspace



Mundur banyak langkah, sebelum berlari lebih jauh. Digunakan ketika kau perlu menghapus huruf perlahan-lahan. Tidak terburu-buru ketika kau menekan delete. Sama halnya dengan menghapus sesuatu, bisa jadi itu bukan hal yang harus buru-buru kau lakukan.

Backspace kadang dilakukan ketika kau tidak tahu harus menulis apa, di layar yang kosong. Kau akan menulis dengan random, satu atau dua kata, lalu menghapusnya lagi. Ketik. Backspace. Ketik. Backspace. Begitu seterusnya.

Sama halnya seperti ketika aku melamunkan, berpikir, menghayalkan, hanya sejumput huruf yang mengingatkanku padamu di benak. Aku akan memandang lama crusor yang sedang mati nyala di layar yang kosong.

Kemudian perlahan, aku mengetik beberapa huruf yang aku sangat kenal.

Namamu.

“Maaf, kau jangan merasa tersinggung ya, hanya saja aku belum siap.”

“Hum, tidak apa-apa juga sih, santai kok.”

“Kau tidak marah kan?”

“Tidak.”

Backspace. Seperti percakapan, entah berapa tahun yang lalu. Yang selalu aku simpan, di kepala juga di hati. Karena percakapan itu terlampau berarti buatku. Hari yang mengubah segalanya.

Backspace. Seperti mengajak untuk berpikir ulang, apa yang akan kau tulis kemudian. Bisa jadi kata yang kau pakai, tidak terlalu pas di dalam sebuah kalimat. Sehingga, kau harus menarik perkataanmu kembali.

“Kalau sayang sih sayang saja.”

Tidak ada respon.

Backspace. Mundur sedikit, bukan untuk melupakan. Mundur sedikit untuk mengunjungi kembali ruang berdebu dimana keping-keping namamu, pernah utuh, dan sepenuhnya hadir di dalam hidupku.

2 comments:

  1. I also wish there were backspace in my life.. and delete also... :')

    ReplyDelete
  2. Ngehapus pelan-pelan. Bukan ctrl+A delete ;)

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...