Tuesday, April 21, 2015

Filosofi Kopi dan Aroma Kopi Yang Tercium Pekat dari Awal Hingga Akhir Film








Filosofi Kopi adalah interpretasi. Saya senang memulai tulisan ini dengan pemikiran bahwa, film ini adalah interpretasi, dan interpretasi adalah kebebasan. Kebebasan itulah yang pada akhirnya dikembalikan kepada sutradara film dan penonton itu sendiri.

Menonton Filosofi Kopi adalah pengalaman personal bagi saya. Karena buku Filosofi Kopi karya Dee, adalah buku favorit saya. Saya menyukai hampir semua karya Dee yang ada di dalam buku itu. Sebut saja Rico De Corro, Spasi, Sepotong Kue Kuning, Sikat Gigi, Mencari Herman, dan Filosofi Kopi, adalah cerita-cerita favorit saya di dalam kumpulan cerita pendek tersebut.

Ketika saya mendengar desas-desus bahwa Filosofi Kopi akan di-filmkan, terus terang saya deg-degan. Karena mau tidak mau ada sebagian dari perasaan saya yang nantinya ikut digambarkan di dalam film tersebut. Dan saya takut, nanti perasaan saya tidak bisa digambarkan, seperti film yang sudah sudah.

Tapi bodoh sekali saya, tentu saja, saya terjebak di dalam pemikiran saya, bahwa film dan buku adalah dua media yang berbeda. Adalah dua perasaan yang berbeda. Tidak bisa digabungkan, karena ketika digabungkan, dengan mudahnya akan menjadi kecewa.

Baiklah, kembali lagi kepada interpretasi, Angga Dwimas Sasongko melakukannya dengan sangat baik. Paling tidak jika dibandingkan dengan film-film adaptasi dari karya Dee lainnya. Interpretasi Angga di dalam film ini bisa dibilang tidak berlebihan, semuanya di dalam proses yang pas. Apalagi bagian konflik, Angga bisa berdialog dengan caranya, tanpa menghilangkan rasa dari Filosofi Kopi sendiri. Dalam hal ini, saya ingin mengatakan bahwa, konfliknya sudah sangat Angga.


Saya tidak akan mengomentari pemain, karena pemainnya sudah cukup melakukan bagiannya dengan baik di dalam film ini. Saya hanya mau bilang begini: ketika menonton film ini, aroma kopi tercium dengan sangat pekat dari awal hingga akhir film. Sensasi rasa ini bagi saya adalah sebuah keberhasilan ketika menonton. Saya tidak sabar untuk segera meminum kopi hitam kesukaan saya, begitu selesai menonton Filosofi Kopi, karena seperti kata Ben “ada juga kopi hitam yang buruk secara penampilan, namun jika kau mengenalnya lebih jauh, kau akan terpesona olehnya.” Segera temukan makna dirimu setelah menonton film ini. 

6 comments:

  1. saya punya kopi hitam sachet dari kedai kopi saya bekerja, kaka usi mau??? :):)

    ReplyDelete
  2. setuju theooo.. abis nonton film ini, langsung pengen minum kopi hitam tanpa gula!

    ReplyDelete
  3. aku jadi punya benang hubungan novel dan film, good review

    Aku kangen dia

    ReplyDelete

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...