Tuesday, September 29, 2015

Perempuan yang Memilih Tinggal











Akhir-akhir ini saya banyak merenungkan tentang jatuh-jatuh, rumah, pagar, halaman dan kutu busuk. Kutu busuk yang merayap masuk ke dalam kasur dan menghisap darah, sekaligus perasaan-perasaan rindumu setiap malam, yang hanya dapat kamu sampaikan kepada bulan terang dalam diam.

Saya suka bagaimana Budi Darma menggambarkan percintaan seperti kutu busuk dalam bukunya Olenka. Sama seperti saya suka dengan kata “berbulan madu”, karena saya selalu membayangkan menjadi lebah yang tinggal di bulan, saling menghisap madu setiap hari. Lihat bagaimana kutu busuk dan lebah dapat menjelma menjadi sesuatu yang indah, hanya karena mereka memiliki kesamaan yaitu dapat menghisap.

Manusia dan kejatuhannya yang tidak direncanakan—setiap hari bangun di pagi hari, tidak dalam kondisi yang sama, tetapi jatuh kepada seseorang yang sama di ingatan yang paling pertama. Adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk membangun rumah bersama—tidak, tanpa pagar, dengan halaman yang luas: dengan bebas bermain, berdua, bertiga, atau bahkan beramai-ramai. Kemudian tinggal atau pergi adalah pilihan selanjutnya. Tetapi saya—perempuan yang memilih tinggal dalam jatuh-jatuh yang tidak direncanakan. 


Seperti Tuhan yang menciptakan manusia dengan kehendak bebas, rasanya sperti itu, dapat menikmati kemerdekaan sejati dalam mencintai, memiliki maupun tidak memiliki. Sebab cinta adalah jatuh-jatuh yang tidak direncanakan. Mungkin tidak berujung. Tetapi hendaklah ia dikerjakan dengan sungguh-sugguh, dan sepenuh hati, karena yang seperti ini bisa ditebak ujungnya: tidak akan pernah ada rasa menyesal, ketika pun harus berpisah.

Segala sesuatu bukannya tanpa tujuan. Tidak ada jatuh-jatuh tanpa tujuan. Tidak ada kesedihan tanpa tujuan. Tidak ada keindahan tanpa tujuan. Rasanya seperti sudah. Rasanya seperti cukup. Saat ini tidak memilikimu, bukan berarti tidak bahagia, karena kebahagiaan itu sendiri dapat muncul dari rasa kekurangan. Saat ini, ketika segala sesuatu berjarak, bukan berarti tidak dapat menikmati keindahan, karena kekosongan itu sendiri dapat menjadi sebuah hening yang indah.

Saya mencintaimu, bukan karena suatu hari kita dapat membangun rumah bersama—tidak dapat. Saya mencintaimu karena saya sudah lebih dulu dicintai, dan memberikan kepenuhan lainnya kepadamu hanyalah bonus. Saya mencintaimu bukan karena saya tidak punya ketakutan, seperti omong kosong yang selalu saya katakan, “jatuh cinta hanya kepada orang-orang yang berani.”

Rasanya tidak ada yang dapat mendefinisikannya, karena saya mencintaimu karena kekuranganmu.  

[Ketika mendung di Bandung, Selasa 29 September, 15.18 wib]




3 comments:

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...