Wednesday, June 17, 2015

Pada Bola Hitam Matamu








Semalam, kamu datang lagi. Kali ini kamu mengunjungiku dengan penuh gelisah. Aku selalu bertanya-tanya, apa yang membuat kamu selalu seperti itu kepadaku. Dalam hati aku selalu mengumpat kenapa sih kamu tidak pernah mengunjungi aku dalam keadaan gembira.

Tetapi syukurlah, umpatan itu hanya aku simpan rapat. Tidak berani keluar dari mulutku. Kamu lalu duduk di depanku, rasanya kita belum pernah saling memandang selama itu. Aku menatap lurus ke dalam bola matamu. Aku bisa melihatnya hitam dan gelisah. Kamu hanya diam saja. Kegelisahanmu semakin terasa ketika kamu menyentuh lenganku dan pelan pelan mentautkan jari-jarimu dengan jari-jariku.

Kamu menyentuh punggung tanganku, kamu seperti sedang berpikir keras untuk mengatakan sesuatu, aku menunggu ... tapi tidak satupun kata keluar dari mulutmu. Kamu menghembuskan nafas pelan. Aku bisa merasakan hangatnya. Aku kembali menatap lurus ke dalam bola mata hitammu, dan menemukan bukan hanya gelisah, kini mata itu berubah sedih.

Jari-jarimu merangkul jari-jariku erat. Semakin merapat. Aku gelisah, lalu mengendurkan sedikit jari-jari tanganku darimu, tapi kamu tetap menggenggamku erat. Seakan tidak mau lepas. Seakan kamu takut aku pergi meninggalkanmu.


Kemudian datang pagi. Aku kaget, lalu membuka mataku. Ternyata aku bermimpi. Namun gelisah dan sedih dari bola matamu, tetap sesak dalam dadaku.  


6 comments:

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...